Manajemen Waktu Perguruan Tinggi Harus Ditinjau Ulang

Manajemen Waktu Perguruan Tinggi Harus Ditinjau Ulang

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyaknya perubahan jadwal di suatu perguruan tinggi hampir dianggap biasa, dengan salah satu alasan DOSENNYA SIBUK. Konsekuensinya, mahasiswa harus menuruti perubahan jadwal perkuliahan berdasarkan kemauan dosen, bahkan hampir setiap minggu ini terjadi baik di tingkat sarjana maupun pascasarjana yang notabene sangat mengedepankan kehadiran terstempel di atas daftar hadir. Hal yang sangat mengerikan, ini dianggap hal biasa. Kalau menggunakan analisis kritis, di sana terdapat penyimpangan oleh seorang dosen atas nama kesibukan sebagai sang intelektual, misalnya dengan aktivitas penelitian, kerja sama dengan kampus lain, seminar, dan lain-lain.

Kesemrawutan ini pada awalnya terjadi di internal kampus, tapi tidak berlebihan kalau ada pemikiran bahwa ini akan berimbas pada kesemrawutan negara. Kampus yang dipandang markas pusaran bintang intelektual yang bercahaya, kini dibiarkan terjajah dengan kekamuflaseuan titel intelektualisme. Mahasiswa yang selalu mengalah dan menuruti segala perubahan jadwal dosen harus segera dikikis.

Berikut ini beberapa alasan dosen mengubah jadwal disertai tanggapannya:

  1. Dosen sibuk. Perlu diingat bahwa tugas utama dosen adalah transfer ilmu kepada mahasiswa. Dosen diangkat dan dibayar baik PNS atau non PNS tiada lain dan tiada bukan mengemban tugas untuk transfer ilmu kepada mahasiswa. Jadi tidak bisa kesibukan dosen seringkali berimbas pada perubahan jadwal perkuliahan.
  2. Dosen sibuk penelitian ke luar negeri. Penelitian itu menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas seorang dosen, tapi ini tidak serta merta membatalkan jadwal kuliah, karena dalam satu minggu pasti ada waktu kosong dari jadwal ngajar di perguruan tinggi utama tempat mengajar (kecuali kalau mengajar di tempat lain, tentunya ini tidak bisa dijadikan alasan). Misalnya, Sabtu dan Minggu. Adapun alasan demi kepentingan kampus, ini kurang tepat, karena kampus dapat memiliki para peneliti tersendiri (selain dosen, kalau perlu) yang ditempatkan di bagian penelitian dan pengembangan. Dengan demikian, tidak ada alasan dosen terlalu sibuk dengan penelitian.
  3. Dosen perlu uang tambahan. Ini bisa diiyakan, tapi tidak berarti membolehkan mengacak-acak jadwal sehingga mahasiswa kelimpungan dalam membagi waktu. Banyak yang bisa dilakukan dosen untuk menambah pendapatannya tanpa harus merusak jadwal perkuliahan, seperti bisnis online, menulis buku, dan lain-lain (Bukankah sumber dan lahan penelitian sudah tersebar di media online?). Yang perlu diingat lagi bahwa mahasiswa juga butuh uang tambahan. Sudah lama para pemerhati sosial berkata bahwa BANYAK LULUSAN SARJANA YANG MENGANGGUR. Bagaimana tidak menganggur, toh jadwal yang diperuntukkan belajar bisnis/usaha seringkali batal karena ada perubahan jadwal kuliah. Padahal mahasiswa S1 biasanya tidak kuliah penuh selama satu minggu, mungkin paling penuh cukup 4 atau 5 hari saja. Nah, kan ada sisa rata-rata dua hari dalam seminggu untuk berwirausaha/bekerja/menjadi buruh untuk mendidik kemandiriannya. Begitu juga S2, kalau rata-rata dalam satu semester mahasiswa harus mengambil 4 mata kuliah, maka 2 hari juga sudah cukup untuk jadwal perkuliahan. Sisa harinya, adakan komunikasi antara dosen dan mahasiswa via online atau via media lainnya tentang aktivitas yang sedang mahasiswa laksanakan disertai motivasi-motivasi jitu dari dosennya.

Tanpa bermaksud berlebih-lebihan mengkritisi peran dosen, tapi ini merupakan bentuk pemikiran kritis sehingga dengan memperhatikan tiga poin di atas, yakin bahwa

  1. Tidak benar kalau jadwal perkuliahan boleh berubah-ubah. Kalau alasan fleksibel, maka daftar hadir jangan dijadikan aspek penilaian perkuliahan.
  2. Tidak benar kalau ada anggapan mahasiswa harus turut dan patuh kepada dosennya. Hal seperti ini merupakan bentuk kolonialisme terselubung. Tentunya, berbahaya bagi peradaban dunia ini.
  3. Tidak benar kalau ada profesor yang sulit dijumpai mahasiswanya dengan alasan ilmunya mahal. Bukankah ilmu itu harus diamalkan? Kalau ingin ilmunya dihargai tinggi, maka bukan berarti mempersulit komunikasi dengan mahasiswa, tapi tuangkanlah dalam bentuk buku, karya tulis, karya nyata yang dapat digunakan oleh masyarakat umum. Ini kemungkinan besar akan meningkatkan pendapatan dan reputasi seorang profesor.

Singkat kata, apapun panggilannya, profesor? Lulusan luar negeri? IQ tinggi? Semuanya tidak baik kalau merusak manajemen waktu seperti yang telah ditetapkan oleh akademik, kecuali ada kesepakatan tertentu yang bisa dibicarakan sebelum perkuliahan dimulai. Kebiasaan mengubah-ubah jadwal perkuliahan termasuk manajemen waktu yang jelek dan akan menular ke generasi selanjutnyam yang semakin bobrok. Na’udzu billah!

Mari menjadi seorang dosen yang mengutamakan kepentingan mahasiswanya!

Mari menjadi seorang mahasiswa yang mengutamakan kepentingan dosennya!

“DOSEN DAN MAHASISWA ITU SALING MEMBUTUHKAN

Laksana

Orangtua dengan Anak Kandungnya.”

BLOG UTAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s