BENARKAH MURID YANG MEMBUTUHKAN GURU?

BENARKAH MURID YANG MEMBUTUHKAN GURU?

Oleh: Komarudin Tasdik

Guru adalah salah satu faktor pendukung yang dapat mengantarkan kesuksesan peserta didik di sekolah. Peran penting guru sangat terlihat jelas di dalam proses pembelajaran, setiap hari peserta didik masuk kelas dan bertatap muka dengan guru untuk memperoleh ilmu baru yang sudah ditetapkan dalam silabus. Tentunya, dengan berbagai gaya dan kemampuan masing-masing guru. Walaupun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sudah ditetapkan salah satu metode pembelajaran, tapi tetap penyampaian ke peserta didik kemungkinan besar berbeda-beda, tergantung keterampilan dan kepiawaian masing-masing guru.

Ketika proses pembelajaran berlangsung, seringkali muncul dinamika pembelajaran, seperti peserta didik malas untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini seringkali membuat guru merasa kesal, atau bahkan marah. Walaupun marah sudah diketahui dilarang dalam kode etik keguruan, tapi tetap saja itu sering terjadi, sehingga hampir terlihat seperti ‘senjata andalan’ guru dalam mengatasi peserta didik yang dianggap bermasalah, walaupun luapan kemarahan hanya sebatas verbal.

Dari berbagai penanganan kemalasan, hampir dianggap lazim apabila seorang guru berkata kepada guru lain: “Mengapa kita harus ‘mengejar-ngejar’ peserta didik untuk belajar, toh bukan guru yang butuh murid (peserta didik), tapi murid yang butuh guru? Masa kamar mandi mencari orang? Padahal orang yang butuh kamar mandi.” Makna yang tersirat dalam pernyataan ini adalah bahwa peserta didik sudah selayaknya berusaha keras untuk belajar, bahkan peserta didiklah yang harus menghampiri guru untuk berkonsultasi, bukan guru. Imbasnya, ketika seorang peserta didik memperoleh nilai jelek, maka yang bersusah payah adalah dia sendiri, bukan guru. Paradigma inilah yang merusak komunikasi antara keduanya. ‘Romantisme” pembelajaran tidak tercapai, sehingga rasa segan sering muncul di hati peserta didik.

Guru adalah mediator, motivator, dan tauldan bagi peserta didik. Apabila perkataan di atas masih dipegang teguh, maka guru tersebut sudah merusak ketiga peran ini. Benarkah hanya murid yang membutuhkan guru? Tidak, karena fakta bahwa guru menerima gaji setelah adanya proses pembelajaran dengan peserta didik, sehingga tanpa peserta didik guru tersebut tidak akan menerima gaji; guru juga memperoleh ilmu baru dari peserta didik, seperti melalui berbagai pertanyaan atau diskusi, karena sudah dipastikan tidak semua pertanyaan itu dapat dijawab oleh guru dengan tepat, meskipun guru sering meraba-raba dengan wajah ‘kemunafikan’ berusaha menjawab pertanyaan sulit itu (ini menodai peran guru); guru adalah pihak yang sangat membutuhkan peserta didik dalam aspek pemerolehan pahala dan rahmat Allah SWT. Pendek kata, guru lebih membutuhkan peserta didik, bukan sebaliknya. Marilah bergegas menghampiri peserta didik untuk kesuksesan proses pembelajaran, marilah berhenti menyalahkan peserta didik ketika memperoleh nilai jelek, marilah berhenti menyalahkan mereka ketika malas mengerjakan tugas. Kita ‘kejar’ dan hampiri mereka dengan rasa penuh sayang, layaknya anak kandung sendiri. Suruhlah peserta didik mengerjakan tugas, dan berilah cara mudah untuk mengerjakannya, bukan hanya sebatas penilaian betul atau salah.

Prinsip yang layak diterapkan guru adalah “Aku sangat membutuhkan murid, maka aku yang harus bersusah payah menghampirinya.” Peserta didik juga harus berprinsip: “Aku sangat membutuhkan guru karena banyak ilmu baru yang dapat diperoleh darinya.” Keseimbangan inilah yang akan mengantarkan proses pembelajaran menuju kesuksesan. Amin.

BLOG UTAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s