KETERBATASAN IMPLEMENTASI E-COMMERCE DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG: STUDI KASUS DI IRAN

KETERBATASAN IMPLEMENTASI E-COMMERCE DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG: STUDI KASUS DI IRAN

Diterjemahkan dari: Shahram Mohanna, dkk. 2011. Limitations of E-Commerce Implementation in Developing Countries: Case study of Iran. Am. J. Sci. Ind. Res., 2011, 2(2): 224-228. http://www.scihub.org/AJSIR

ABSRAK

Electronic Commerce (e-commerce) diterima baik di negara berkembang dan memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi. Bangsa yang kurang dan sedang berkembang jauh di belakang perhatian ini, walaupun faktanya pemerintahan mereka telah berusaha           mendorong e-commerce. Paper ini akan membahas faktor-faktor yang dapat berperan sebagai penghambat perkembangan e-commerce di Iran. Kajian kualitatif dan kuantatif di lakukan di provinsi Sistan Baluchestan. Dalam prosedurnya, para profesional di wawancara sedangkan respon para pakar bisnis dituangkan dalam kuesioner. Menurut penemuan kami, infrastruktur teknis, faktor-faktor managerial organisasi telah mendukung e-commerce di Iran. Bagaimanapun, latar belakang social budaya diidentifikasi sebagai hambatan utama pada implementasi e-commercedi negara tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa, tingkat melek TI rendah, permintaan yang rendah terhadap bisnis online dan e-kepercayaan antar pedagang tradisional merupakan aspek-aspek keterbatasan besar. Untuk memperbaiki keadaan e-commerce di negara itu, hambatan-hambatan budaya harus diatasi. Ini dapat dicapai melalui pendidikan masa sehingga masyarakat memahami dan menerima teknologi baru termasuk TI dan e-commerce.

PENDAHULUAN

Electronic commerce adalah sebuah proses jual beli produk, layanan dan informasi menggunakan jaringan komputer dan internet. E-commerce mempercepat tren perdagangan global dengan menghapus batasan-batasan perdagangan internasional. Manfaat dari segi ekonomi seperti perluasan pasar, reduksi harga produk, promosi produk, reduksi biaya transaksi dan inflasi, mengurangi ketidak-pastian, berbagi informasi pasar, dan meningkatkan efisiensi channel distribusi dan memainkan peran penting pertumbuhan ekonomi yang pesat [1]. E-commerce dapat menjadi sumber yang memperbaiki ekonomi domestik dan globalisasi produksi denga cepat, dan perkembangan teknologi yang ada [2]. Afrika dan Timur Tengah terkena dampak dari isu-isu sangat spesifik yang harus diintegrasikan ke dalam agenda dunia dan setuju untuk berpartisipasi di dalamnya, sehingga hambatan-hambatan itu dapat dipahami dengan sangat baik dan diteliti orang banyak [1, 3, 4]. Dalam literatur e-commerce yang dipublikasikan di negara-negara berkembang ada asumsi bahwa akses internet akan meningkatkan e-commerce di negara berkembang [1, 2], bagaimanapun di banyak negara berkembang terdapat banyak hambatan dalam memperluas e-commerce termasuk sumber daya dasar, kurang infrastruktur, faktor lingkungan, masalah pendidikan dan budaya [3, 4, 5, 6].

Syarat penting  untuk meningkatkan penggunaan e-commerce adalah adopsi para pedagang dan pengguna sejalan dengan latar belakang social budaya seperti pegawai yang berskill tinggi dan melek TI di antara pedagang dan konsumen [9]. Sejumlah hambatan adopsi e-commerce yang berbeda telah didokumentasikan dalam kajian-kajian penelitian. Sebagian mencakup biaya tinggi untuk e-commerce, kekurangan sumber daya teknis dan keahlian untuk mengaplikasikan e-commerce, kesulitan teknologi e-commerce dan kompleksitas pengukuran pengembalian investasi [10]. Sejak tahun 1995, Iran telah menikmati peningkatan dahsyat dalam adopsi TI. Perkembangan ini telah membantu lingkungan istimewa untuk memperluas TI di negara tersebut. Bagaimanapun, tingkat ekspansi e-commerce termasuk sedang atau rendah. Dengan kata lain, e-commerce cukup ketinggalan dan harus berinvestasi lebih banyak lagi untuk pengembangan e-commerce. Negara ini berinvestasi sangat banyak untuk penyebaran internet dan electronic banking (e-banking) di antara lembaga pemerintah dan sektor swasta dibandingkan dengan negara-negara timur tengah lain [5, 7, 8]. Studi implementasi e-commerce di SME Iran telah dilakukan, menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti perkembangan, pendidikan dan manajemen sumber daya manusia, jadwal produksi, manajemen hubungan luar negeri, sistem komunikasi dan manajemen keuangan antara lain merupakan faktor-faktor kegagalan utama [11, 12]. Sebuah penelitian tahun 2008 menunjukkan bahwa keputusan manajerial yang bagus dan kelemahan visi unik di antara organisasi Iran merupakan salah satu hambatan kemajuan e-commerce di negara tersebut [5].

Infrastruktur teknis, faktor manajerial dan latar belakang sosial memainkan peran yang berbeda di setiap negara, sehingga untuk menguji kembali faktor-faktor penting ini di Iran dengan baik. Untuk menetapkan keadaan e-commerce di sebuah negara, beberapa faktor harus diujui yang meliputi pemerintahan, bisnis, konsumen, dan infrastruktur teknis sebagaimana halnya pengujian terhadap latar belakang sosial dan budaya. Paper ini merupakan sebuah usaha untuk mengidentifikasi alasan-alasan di balik perkembangan e-commerce yang lambat di negara berkembang terutama di Iran.

Metode penelitian: Sebagian besar faktor-faktor yang disebutkan di atas berperan sebagai penghambat terhadap perkembangan e-commerce di negara-negara berkembang diteliti juga di Iran.

Model konseptual dan hipotesis: Melakukan penelitian kualitatif dan wawancara dengan para profesional TI. Hasilnya, review pustaka yang seperti pada bagian sebelumnya, menyimpulkan bahwa hambatan dan keterbatasan e-commerce di Iran dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok utama, mencakup faktor manajerial organisasi, infrastruktur teknis dan latar belakang sosial budaya. Gambar 1 menunjukkan model konseptual untuk studi ini.

Hipotesis dalam survey ini mencakup tiga asumsi:

H1: Faktor manajerial dan organisasi mendukung e-commerce di Iran

H2: Infrastruktur teknis Iran dipersiapkan untuk e-commerce di Iran.

H3: Latar belakang sosial budaya masyarakat di Iran siap untuk e-commerce.

Pengumpulan Data

Validitas dan Reliabilitas Instrumen: Agar tetap konsisten dengan studi-studi sebelumnya yang direview di bagian 1, pengukuran diadopsi dari sebelumnya, daya terima e-commerce, belanja online, dan studi lain sebelumnya serta dihubungkan dengan teori. Kuesioner mencakup 15 pertanyaan yang digunakan , respon diukur dengan 5 poin skala jenis Likert (1 sangat tidaks setuju; 2 tidak setuju; 3 netral; 4 setuju; 5 sangat setuju). Untuk memvalidasi instrumen tersebut, 20 pakar TI Iran diwawancara. Dengan demikian, beberapa modifikasi dibuat untuk kuesioner tersebut, pada dasarnya komentar-komentar dikumpulkan melalui studi utama ini. Setelah studi utama ini, pre-tes diberikan pada 30 pedagang yang dipilih secara acak dengan pengalaman e-commerce. Feedback diminta dengan memperhatikan panjang instrumen, format skala, validitas konten, dan kejelasan pertanyaan. Pada dasarnya feedback itu, modifikasi minor yang dilakukan, setelah modifikasi ini kuesioner akhir didesain. Semua skala pengukuran memiliki level reliabilitas (kehandalan) yang dapat diterima, dengan koefisien alfa Cronvach.

Grup sampel: Masyarakat statistik sampel penelitian ini mencakup semua pedagang propinsi Sistan dan Baluchestan Iran, yang memiliki aktivitas ekspor/impor internasional. Surat undangan dikirimkan kepada setiap orang untuk berpartisipasi dalam sesi pelatihan. Sebanyak 94 pedagang dan pakar bisnis ambil bagian dalam sesi tersebut dengan memperoleh kuesioner, hanya 80 orang yang bergabung dan membalasanya. Dari populasi sekitar 74% pria dan 26% wanita, 80% sarjana dan 20% pascasarjana.

Analisis Korelasi

Hasil analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan T-student, level kesalahan alfa ditetapkan 0,05 dan Degree of Freedom ditetapkan 79 (DF=79). Parameter-parameter ini digunakan untuk penilaian dan pengujian hipotesis penelitian. Hasil statistik ditampilkan pada Tabel 1. Juka peringkat tiga hipotesis disajikan pada Tabel 2.

Hasil T-tes: Dapat digambarkan dari Tabel 1 bahwa nilai Sig atau P-value untuk H1 sama dengan 0,705 yang mana lebih besar daripada a=0,05 sehingga H1 diterima yang menunjukkan infrastruktur teknis untuk e-commerce di Iran Supports E-Commerce didasarkan pada pandangan grup sampel. Tambahannya, analisis T-tes menunjukkan H2 diterima juga, menunjukkan faktor-faktor manajemen dan organisasi dapat mendukung e-commerce di Iran. Baris terakhir tabel itu mengilustrasikan bahwa, Sig atau P-value untuk H3 sama dengan 0.00, menunjukkan bahwa latar belakang sosial budaya masyarakat di Iran jauh di belakang penerimaan e-commerce (sulit menerima e-commerce).

Analisis mendalam dilakukan untuk 15 pengukuran dalam kuesioner berbasis grade group sampel. Hasil itu disajikan pada Tabel 3.

Seperti yang dapat digambarkan pada Tabel 3, antara lain infrastruktur teknis, faktor logistic memperoleh skor terendah terkait transportasi, kartu pos dan kecepatan pengiriman tidak memadai untuk mendukung e-commerce di Iran. Tambahannya, tabel itu menunjukkan bahwa, isu-isu legal jauh dari mendukung e-commerce dan mendorong masyarakat untuk menggunakan teknologi tersebut. Lebih jauh lagi, di dalam faktor-faktor sosial budaya melek TI memperoleh skor sangat rendah dan e-kepercayaan juga kedua dari terakhir.

PEMBAHASAN

Perkembangan e-commerce sangat tergantung pada level aspek teknis, managerial, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Dalam kajian ini fokus kami adalah pada faktor infrastruktur teknis, managerial organisasi dan latar belakang sosial budaya. Menurut penemuan kami faktor infrastruktur teknis dan managerial organisasi memiliki situasi yang lebih baik secara berturut-turut dan hampir telah mendukung e-commerce di Iran. Bagaimanapun, latar belakang sosial budaya masyarakat memperlambat penerimaan e-commerce di Iran. Faktor-faktor sosial dan budaya melek TI memperoleh nilai terendah dan e-kepercayaan  juga nomor dua dari terakhir. Dengan demikian, pemerintah, sektor swasta dan media harus berinvestasi pada program pelatihan e-commerce. Tambahannya, pemerintah harus berencana untuk memodifikasi hukum yang mencakup e-commerce dan meningkatkan e-kepercayaan antar masyarakat Iran.

KESIMPULAN

Untuk kesimpulan, penemuan empiris kami menunjukkan bahwa, perhatian pada implementasi e-commerce di Iran tidak sama dengan kasusnya di negara-negara yang sedang dan belu berkembang. Menurut penemuan kami infrastruktur teknis dan faktor managerial organisasi hampir mendukung e-commerce di Iran, walaupun latar belakang sosial dan budaya masyarakatnya memperlambat penerimaan e-commerce di Iran. Di antara faktor sosial dan budaya, melek TI memperoleh skor paling rendah dan e-kepercayaan juga memperoleh nilai kedua dari terakhir sehingga pemerintah dan sektor swasta yang bekerja dalam aktivitas komersil harus berinvestasi dalam program-program pelatihan khusus. Terakhir, modifikasi hukum untuk mendukung aktivitas e-commerce merupakan sebuah kunci yang akan meningkatkan e-kepercayaan (e-trust).

REFERENSI

One response to “KETERBATASAN IMPLEMENTASI E-COMMERCE DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG: STUDI KASUS DI IRAN

  1. Pingback: john thomas financial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s