KETERBUKAAN DOSEN BUTUH ENERGI KUAT

KETERBUKAAN DOSEN BUTUH ENERGI KUAT

Penting: Coretan ini akan lebih nyaman dibaca ketika hati sedang tenang, pikiran tidak terlalu banyak beban dan semangat selalu ingin memperbaiki diri.

Fenomena yang sering terjadi, di antaranya komunikasi mahasiswa dan dosen tidak berjalan mulus. Kekakuan kedua belah pihak sering menghiasi dunia kampus. Proaktif dosen sangat dibutuhkan dalam hal ini. Berikut ini beberapa pernyataan yang akan menstimulus mahasiswa untuk mau berkomunikasi:

  1. Katakanlah bahwa “Dosen itu tidak segala tahu!” Jangankan di luar bidangnya, dalam materi yang sedang diberikan kepada mahasiswa pun, pasti ada hal yang tidak diketahuinya. Ini boleh disampaikan kepada para mahasiswa, sehingga mereka akan merasa masih berpeluang untuk mencari tahu apa yang belum dosennya ketahui. Lebih lanjutnya, cita-cita mahasiswa untuk lebih cerdas dari dosennya akan semakin kuat.
  2. Kritiklah saya, walaupun sebagai dosen anda! Sementara ini, sudah ada pernyataan itu, tapi dibumbui dengan kritik yang membangun. Saya pikir, segala kritik pedas ataupun halus semuanya membangun. Maka, apabila mahasiswa mengkritik sehingga dosen itu tersinggung, itu hal yang wajar. Dan seorang dosen harus berusaha menerimanya sekuat tenaga untuk tidak marah. Inilah yang memerlukan energi kuat, tapi untuk permulaan saja. INI PERLU ADA KESEPAKATAN: Misalnya, apabila mahasiswa mengkritik dosen dengan bahasa kurang baik, maka mahasiswa tersebut harus menerima kritikan dari dosen terkait penghalusan bahasanya. Perlu diingat, dosen mengkritik balik bukan untuk mematahkan kritikan mahasiswa tadi, tapi untuk memberikan pendidikan etika dalam berbicara. Ini sangat penting dalam tataran praktis, karena mungkin banyak dosen yang enggan melakukannya, karena khawatir reputasi terkikis.
  3. Pastikan mahasiswa pengkritik tidak takut diberi nilai ‘E’. Sepedas dan sesadis apapun mahasiswa yang mengkritik harus diyakinkan dan dipastikan tidak akan mempengaruhi nilai, apalagi dicap ‘E’. Karena yang terjadi, seringkali mahasiswa ingin mengkritik atau memberi saran, tapi takut ini dan itu, takut dipersulit dalam perkuliahan, takut dimarahin, takut diberi nilai ‘E’, bahkan takut dosen tidak mau masuk lagi ke kelasnya. Perasaan ini tidak terlalu salah, karena rumor dosen ada yang suka bersikap ‘menakut-nakuti’ mahasiswa seperti itu. Singkatnya mari katakan kepada mahasiswa: “SILAHKAN ANDA KRITIK SAYA, DAN JANGAN KHAWATIR BAHWA KRITIKAN ANDA SEPEDAS APAPUN TIDAK AKAN MENGURANGI NILAI DALAM MATA KULIAH SAYA, MALAHAN BOLEH JADI SAYA KASIH ‘NILAI BONUS’. DAN APABILA ANDA TAKUT SALAH MENGGUNAKAN BAHASA KRITIKANNYA, NANTI KITA SAMA-SAMA PERBAIKI BERDASARKAN ILMU YANG SUDAH KITA PELAJARI!” Pernyataan ini harus disampaikan dengan setulus hati, penuh kesadaran, dan wajah yang ramah, biar mahasiswa tidak menganggap kita sedang menjebak.

Selain ketiga pernyataan di atas masih banyak lagi sikap yang harus dibangun oleh seorang dosen. Semoga ini tidak membuat siapapun tersinggung. Ini hanya curahan keinginan dan kecintaan untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik. Amin

Tulisan di atas diperkuat dengan artikel Dr. Rer. Nat. Suseno Amin, Ir. (Dosen Faperta UNPAD), dengan judul Pembimbing Skripsi Harus Punya Performa Bagus (Sumber: Harian Pikiran Rakyar, Kamis, 20 Oktober 2011)

4 responses to “KETERBUKAAN DOSEN BUTUH ENERGI KUAT

  1. Setujuuuu… Dosen tidak selalu benar. Jaman kuliah dulu saya sering kesel sama dosen karena banyak yang ingin mendekte muridnya

    • Iya Mbak. Saya sering mendengar hak prerogratif dosen, tapi sayangnya itu dijadikan senjata menaklukkan mahasiswa. Padahal yang saya tahu, hak tersebut berlaku apabila dosen diminta menyeleweng dari kebenaran yang sudah ditetapkan kampus. Tentunya tidak ada aturan kampus yang menghendaki mahasiswanya menjadi menderita.

      Saya sering tekankan bahwa yang menginginkan mahasiswa cepat lulus dengan nilai baik itu bukan hanya mahasiswa, tapi seharusnya dosen, dosen, dan dosen. Maka kerja sama antara dosen dan mahasiswa seperti orang tua kandung dengan anak kandung kesayangannya itulah yang harus diciptakan.
      Terimakasih komentarnya ya…

  2. Saya setuju dengan kalimat “kerja sama antara dosen dan mahasiswa seperti orang tua kandung dengan anak kandung kesayangannya itulah yang harus diciptakan.” Cuma, saya kurang setuju dengan pernyataan dengan dosen juga menginginkan mahasiswa lulus cepat dengan nilai baik. Saya lebih tertarik ada banyak mahasiswa yang punya karya untuk banyak orang

  3. Terima kasih pandangannya mbak. Saya setuju dengan ‘punya karya’. Ini menjadi hal ideal dalam benak saya juga.
    Yg saya katakan “lulus cepat dgn nilai baik” itu sebagai jawaban terhadap adanya rumor kadang2 dosen suka tidak mengindahkan kemajuan studi mahasiswanya. padahal mahasiswa tersebut masih menggunakan uang hasil jerih payah orang tua. Di sini saya berharap adanya inisiasi komunikasi dari keduanya. Tidak hanya menunggu mahasiswa melangkah duluan….
    Terimakasih ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s