MARI SAYANGI MAHASISWA KITA

MARI SAYANGI MAHASISWA KITA

Oleh: Komarudin Tasdik

Mahasiswa adalah anak kita yang secara tidak langsung sudah dititipkan orang tua dan Allah SWT kepada kita. Kasih sayang kita untuk mereka sudah tidak layak apabila terlalu dibeda-bedakan dengan anak kandung sendiri. Mahasiswa perlu disayang, dibimbing, dan diarahkan, tanpa memandang usia. Apabila berprinsip bahwa mahasiswa itu harus sudah dewasa, itu baru keinginan. Karenan faktanya, masih banyak orang-orang dewasa dari segi umurnya, tapi pemikirannya masih kurang dewasa. Maka mereka inilah yang masih membutuhkan arahan dari dosennya.

Beberapa perasaan yang biasa muncul di diri mahasiswa ketika bertemu dosen: malu, segan, takut, marah, tidak suka, senang. Hal-hal baik mungkin tidak terlalu bermasalah karena komunikasi mahasiswa dan dosen akan terjalin dengan baik juga. Tapi ketika perasaan kurang baik yang muncul di mahasiswa, maka komunikasi akan semakin buruk, bahkan akan pengaruh pada kesuksesan dalam perkuliahannya.

Hal yang jarang sekali ditemukan di antaranya:

  • Dosen menyapa mahasiswa
  • Dosen mengajak dengan penuh kasih sayang (tapi tidak memanjakan) untuk perbaikan nilai mahasiswa
  • Dosen membuat mahasiswa berani berkomunikasi, dengan cara menghilangkan gaya ‘penuh wibawa’ yang membuat mahasiswa tidak bisa berbicara apa-apa karena terlalu hormat kepadanya
  • Mengurangi otoritas dosen yang membuat mahasiswa seakan-akan harus selalu mengalah, misalnya kesibukan dosen seringkali membuat mahasiswa terlantar, kesibukan dosen seringkali membuat mahasiswa sulit berkomunikasi.
  • Dan lain-lain

Keempat hal di atas apabila diperhatikan oleh para dosen, maka akan banyak membantu mahasiswa dalam menjalani kesulitan dalam perkuliahannya. Kita tidak boleh lupa, mahasiswa juga ada yang memiliki kesibukan untuk sekedar bertahan hidup, berusaha untuk membayar SPP, berusaha membantu keluarganya, dll. Apabila seorang mahasiswa tegang menghadapi kelulusan, maka dosen harus jauh lebih tegang kalau mahasiswanya tidak lulus, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang profesor dosenku yang baik hati: “Ketika mahasiswa tegang menghadapi sidang tesis, maka pembimbingnya akan lebih tegang daripadanya.”.

Kebaikan dosen berupa kasih sayang terhadap mahasiswa layaknya orang tua terhadap anak kandungnya, bukan tidak ada di kampus-kampus negeri ini, tapi dirasa masih jarang ditemukan keberadaannya. Tiada hati untuk melukai, tiada kata untuk berkata-kata saja. Ini hanya seuntai kata yang menjadi keinginan hati untuk melakukannya. Semoga Allah membimbing hamba yang penuh keterbatasan ilmu ini. Amiin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s