KEAUTENTIKAN AL QURAN

KEAUTENTIKAN AL QURAN

Bagaimana al Quran dibukukan

Oleh: Maurice Bucaille

Penerjemah: Komarudin Tasdik

Sumber: the Bible, the Quran and Science

Kita patut bersyukur atas keautentikan al Quran yang unik dibanding wahyu Allah yang lainnya, baik dibanding Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Pandangannya merupakan penyempurna kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kesamaannya dengan al Quran, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama diturunkan kepada rasul; kita akan mempelajarti bagaimana al Quran dibukukan, yakni mencakup prosesnya.

Dalam hal ini, perbedaan al Quran dan Injil mencakup waktu dibukukannya. Pertanyaan seperti ini sering dilontarkan oleh Yahudi-Nasrani berkenaan waktu penulisan al Quran; mereka tidak mengimani proses turunnya    al Quran kepada Nabi Muhammad. Dinyatakan bahwa  wahyu yang turun pada abad 7 sama dengan 15 abad sebelumnya. Pernyataan ini tidak beralasan; terdapat perbedaan-perbedaan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dibanding al Quran, yang mana al Quran lebih up to date dan tidak ada kekhawatiran dari modifikasi manusia.

Melihat sedikitnya penulis yang menulis sejarah Perjanjian Lama plus revisinya sebelum jaman Kristiani, menyebabkan isinya tidak akurat dan kontradiktif. Seperti halnya Perjanjian Baru, tidak ada seorang pun yang menulis bahwa Perjanjian Baru mengandung perkataan Jesus atau deskripsi tentang perbuatannya sesuai realita. Kita melihat bagaimana penulisan Perjanjian Baru ini kurang autentik, apalagi para penulisnya tidak menyaksikan langsung kehidupan Jesus.

Perlu digarisbawahi tentang tujuan al Quran sebagai wahyu Allah yang dibukukan dan hadits sebagai kumpulan perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad saw. Beberapa sahabat Nabi telah mulai menulisnya sejak wafatnya Nabi. Untuk menghindari kesalahan dalam memahaminya setelah Nabi Muhammad, maka harus mengkajinya secara teliti. Keautentikan pengkajian tersebut berbeda-beda, seperti halnya terhadap Perjanjian Baru. Tidak ada satu Perjanjian Baru yang ditulis di masa Jesus (Perjanjian Baru itu ditulis berjarak lama setelah missi Jesus berakhir/Jesus wafat), dan tidak satu kumpulan haditspun yang disusun selama masa Jesus.

Hal ini sangat berbeda dengan al Quran ketika wahyu turun, Nabi dan orang-orang Islam mengikuti beliau untuk menghapalnya dan ditulis oleh ahlinya. Jadi dua unsur keautentikan tersebut tidak dimiliki Perjanjian Baru. Ini berlangsung hingga Nabi wafat. Ketika setiap orang belum bisa menulis, mereka menghapalnya, dan ketika hapalan tersebut ditulis maka dicek lagi kebenarannya.

Al Quran diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad. Ini menempuh waktu lebih dari 20 tahun, dimulai dengan lima ayat pertama surat 96, kemudian ditutup setelah 23 tahun dari pengangkatan beliau menjadi Nabi hingga wafat pada tahun 632 M, yakni 10 tahun sebelum Hijrah dan 10 tahun setelah Hijrah.

Berikut ini wahyu pertama (surat96: 1-5):

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
  3. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Paling Pemurah
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
  5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Profesor Hamidullah menuliskan pada pengantar terjemahan al Quran berbahasa Perancis bahwa salah satu tema dari wahyu pertama ini adalah ‘pujian terhadap pena yang berarti ilmu manusia’ yang akan ‘menjelaskan konsentrasi Nabi untuk menjaga al Quran dalam bentuk tulisan’.

Wahyu di atas membuktikan bahwa lama sebelum Nabi Hijrah dari Mekah ke Madinah, ayat al Quran di atas sudah ditulis. Dalam hal ini, kita akan melihat begitu autentiknya al Quran. Kita mengetahui bahwa Muhammad dan orang-orang Islam yang bersamanya telah terbiasa membaca ayat-ayat yang telah dihapalnya. Jadi tidak benar kalau al Quran tidak sesuai dengan realita karena dapat dicek dengan mudah oleh pengikut Nabi dengan menanyakan kepada para penulis ayat-ayat tersebut.

Empatsuratditurunkan dan ditulis sebelum Nabi Hijrah tahun 622 (surat80: 11-16)

11 – Sekali-kali jangan (demikian)! Sesunguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

12 – Maka barang siapa menghendaki, tentulah ia memperhatikannya

13 – di dalam kitab-kitab yang dimulyakan

14 –  yang ditinggikan lagi disucikan

15 – di tangan para penulis (malaikat)

16 – yang mulia lagi berbakti.”

Yusuf Ali dalam terjemahannya tahun  1934 menulis bahwa ketika surat ini telah turun, 42 atau 45  yang lainnya telah ditulis dan dijaga oleh umat Islam di Mekah (hingga jumlahnya114).

–         Surat85: 21-22:

11 – Bahkan yang didustakan mereka adalah al Quran yang mulia

12 – yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh

–         Surat56: 77-80

77 – Sesungguhnya al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia

78 – pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz)

79 – tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan

80 – diturunkan dari Tuhan Semesta Alam

–         Surat25:5:

5- Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.”

Di sini kita memiliki referensi tentang penghinaan yang dibuat oleh musuh-musuh Nabi yang menggelarinya sebagai Penyemu. Mereka menyebarluaskan rumor bahwa cerita-cerita zaman dahulu itu  didiktekan kepada Nabi dan beliau menulisnya (pernyataan itu cukup beralasan, tapi harus diingat bahwa Muhammad buta huruf). Bagaimanapun juga, ayat di atas mengacu pada tulisan yang dibuat oleh musuh-musuh Muhammad sendiri.

Suratyang diturunkan setelah Hijrah menunjukkan sebagai wahyu terakhir yang ditulis:

–          Surat 98: 2-3

2 – (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al Quran)

3 –  di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus

Jadi al Quran sendiri berindikasi sebagai fakta tertulis pada masa Nabi. Ini diperkuat bahwa pada masa itu terdapat beberapa ahli menulis, yang sangat terkenal adalah Zaid Ibn Thabit.

Dalam pengantar terjemahan al Quran berbahasa Perancisnya (1971) Prof Hamidullah menjelaskan yang  khusus tentang kondisi dari mulai al Quran ditulis hingga Nabi wafat.

Semua sumber sepakat pada pernyataan bahwa setiap Nabi hendak membaca ayat-ayat al Quran, beliau memanggil salah seorang sahabatnya yang terpelajar dan mendiktekannya untuk beliau, menunjukkan letak ayat-ayat sesuai struktur yang benar…Ini menggambarkan bahwa muhammad meminta ahli menulis untuk membacakan kembali kepadanya apa yang telah beliau diktekan agar beliau dapat mengoreksi beberapa kekurangannya…Cerita terkenal lainnya menceritakan bagaimana setiap tahun di bulan Ramadan, Nabi membaca al Quran di depan Malaikat jibril…, bahwa pada bulan Ramadan sebelum Muhammad wafat, Jibril meminta Muhammad untuk membaca al Quran hingga dua kali khatam…Telah kita ketahui, bagaimana sejak zaman Nabi umat Islam membaca semua al Quran untuk menambah sempurna doa mereka. Beberapa sumber menambahkan bahwa juru tulis Muhammad, Zaid hadir pada saat penulisan ayat terakhir.

Bahan-bahan yang digunakan untuk penulisan pertamanya berupa: perkamen, kulit, lembaran dan kayu, tulang lembusir unta, batu halus untuk prasasti, dll.

Muhammad juga menganjurkan orang Islam untuk menghapalkan al Quran. Mereka melakukan ini karena tidak semua ayat dapat dibaca selama shalat. Dengan demikian, terdapat banyak Hafidzun yang hapal al Quran semuanya dan menyebarkannya ke luar negeri. Metodenya berupa latihan tertulis dan hapalan hingga berhasil luar biasa.

Tidak lama setelah Nabi wafat (632), sahabatnya Abu Bakar, khalifah Islam pertama, meminta juru tulis Nabi Muhammad, Zaid bin Thabit untuk mengcopy teks al Quran; Ini yang beliau lakukan. Dengan inisiatif Umar (khalifah kedua), Zaid mengkonsultasikan semua ayat yang telah dikumpulkan di Madinah; saksinya terdiri dari Hafidhun, copian ayat-ayat yang ditulis pada bahan-bahan yang berbeda-beda itu milik pribadi, semuanya dapat menghindari kemungkinan kesalahan-kesalahan penulisan. Jadi copian ayat-ayat yang terpercaya dapat diperoleh.

Sumber-sumber lain menceritakan kepada kita bahwa Khalifah Umar, sahabat Abu Bakar, tahun 634 segera membuat mushaf yang mereka titipkan menjelang kematiannya ke saudara perempuannya Hafsa, janda Nabi.

Khalifah Islam ketiga, Utsman, yang memegang kekhalifahan dari tahun 644 hingga 655, membentuk tim ahli. Tim tersebut mengecek keautentikkan ayat-ayat wahyu itu yang telah dirintis oleh Abu Bakar yang telah dititipkan kepada Hafsa. Tim ini berkonsultasi dengan orang Islam yang memahami ayat-ayat tersebut dengan baik. Analisis kritis atas keautentikan ayat-ayat tersebut telah dilakukan dengan sangat teliti. Kesepakatan para saksi yang mengkaji ayat-ayat tersebut sangat kuat dan terpelihara. Diketahui bagaimana ayat-ayat al Quran mengoreksi sumber-sumber yang lain: Ini mungkin menjadi jelas ketika mengingat bahwa Nabi menjalankan amanah kerasulannya selama dua puluh tahun.

Hasilnya adalah sumber yang berisi perintah dari berbagaisuratyang merefleksikan perintah yang diikuti Nabi, juga telah dikaji beliau berdasarkan al Quran, khususnya selama bulan Ramadan.

Terdapat alasan yang mengilhami khalifah ketiga, Utsman, atas pembentukan tim penyusun al Quran tersebut. Alasan yang sangat sederhana adalah: Perluasan Islam pada dekade pertama setelah Nabi wafat sangat cepat dan ini menyebar di kalangan yang berbahasa aslinya bukan bahasa Arab. Ini sangat menuntut untuk menjamin keaslian al Aquran: Tim Utsman  melakukannya dengan seobjektif mungkin.

Utsman mengirimkan copian-copian al Quran kepada pusat-pusat Pemerintahan Islam. Menurut Profesor Hamidullah, copian Mushaf Utsmani tersebut sampai keTashkentdanIstanbul. Jauh dari kemungkinan salah, dokumen tertua tersebut diketahui sampai sekarang, yakni mushaf yang ditemukan di Dunia Islam dan mushaf yang ditemukan di Eropa sangat identik (terdapat penggalan-penggalan ayat pada Bibliotheque Nationale di Paris, menurut para ahli tertanda abad ke 8 dan 9 M, yakni abad ke 2 dan 3 H). Sejumlah naskah kuno eksistensinya semua diakui kecuali untuk variasi-variasi yang sangat kecil dan tidak mengubah makna. Jika sewaktu-waktu ada lebih dari satu tafsir, ini diperbolehkan karena naskah kuno tersebut lebih sederhana dibanding yang sekarang.

Sebanyak 144surattelah disusun. Susunan wahyu tersebut tidak secara kronologis penurunannya. Dalam kebanyakan ayat, susunannya memang dapat diketahui. Sejumlah besar deskripsi disebutkan pada beberapa point pada ayat tersebut, kadang-kadang berulang-ulang. Sangat sering satu ayat memperjelas ayat yang lain. Segala hal yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan modern dapat dihubungkan dengan al Quran, penjelasannya tersebar melalui buku-buku yang cukup banyak.

ASAL USUL INJIL

Sebelum Injil menjadi buku, Injil merupakan tradisi rakyat yang tersimpan dalam memori manusia, mulanya hanya sebatas ide-ide selintas. Tradisi ini berupa nyanyian.

Pada intinya, tulis E. Jacob, setiap orang menyanyi; di Israel banyak puisi yang berproses menjadi prosa. OrangIsraelmenyanyikannya dengan panjang dan baik; dipengaruhi dengan lingkungan sejarahnya menuju tingkat kegembiraan yang sangat tinggi dan keputusasaan yang mendalam, menghayatinya dengan hati yang mendalam seraya membayangkan peristiwa yang telah terjadi, terlihat di mata mereka,Israelmenyanyikannya dengan ekspresi yang kaya makna. Mereka bernyanyi untuk berbagai alasan dan E. Jacob menyebutkan sejumlah lagu dalam Injil: lagu-lagu makan, lagu-lagu hasil panen, lagu-lagu bekenaan dengan pekerjaan, seperti Well Song (Numbers 21, 17), lagu-lagu pernikahan, seperti dalam the Song of Songs, dan lagu-lau perkabungan. Dalam Injil ada sejumlah lagu-lau perang dan di antara lagu-lagu itu kita menemukan the Song of Deborah (Judges 5, 1-32) memuji-muji kemenangan Israel yang diinginkan dan dipimpin oleh Yahweh sendiri, (Number 10, 35): “Dan kapanpun bahtera tentara berangkat, Moses berkata: ‘Bangun, wahai Yahweh, dan biarkan tentaramu menyebar; dan biarkan mereka yang membenci kamu melarikan diri dari kamu.”

Adajuga Maxim dan Proverb (Kitab Proverb, Proverb dan Maxim dari buku-buku Sejarah), kata-kata berkah dan kutukan, dan hukum-hukum yang disabdakan Nabi kepada manusia sebagai penyampai wahyu.

E. Jacobs menulis bahwa kata-kata ini menyebar dari satu keluarga ke keluarga lainnya atau disampaikan melalui tempat-tempat di sekitar gereja dalam bentuk sejarah manusia pilihan Tuhan. Sejarah secara cepat menjadi dongeng, seperti pada dongeng Jotham (Judges 9, 7-21), di mana “Pohon-pohon itu terus meminyaki raja-raja dan raja-raja itu meminta pohon zaitun, pohon ara, pohon anggur dan bramble”, yang mengizinkan E. Jacobs menulis “dijiwai oleh kebutuhan untuk menceritakan cerita yang baik, narasi tersebut tidak dibingungkan dengan subjek-subjek dan waktu-waktu yang memiliki sejarah tidak baik”, seperti yang dia simpulkan:

“Kemungkinan bahwa apa yang Perjanjian Lama narasikan tentang Moses dan beberapa kepala keluarga saat itu hanya perkiraan serangkaian fakta-fakta sejarah. Para Narator menyampaikannya secara lisan; mampu memainkan keanggunan dan imajinasi untuk mencampurkannya menjadi episode-episode yang luhur dan bervariasi, ketika semua dikatakan dan dilakukan, mereka mampu mempersembahkannya sebagai sejarah yang lebih kredibel di hadapan para pemikir kritis tentang apa yang terjadi pada saat permulaan manusia dan dunia diciptakan.

Adaalasan yang bagus untuk mempercayai bahwa setelah orang-orang Jewis tinggal diCanaan, di akhir abad 13 SM, tulisan digunakan untuk memelihara tradisi tersebut. Terdapat keterangan yang tidak begitu akurat, yakni tentang hukum-hukum. Di antaranya, hukum-hukum Tuhan, the Ten Commandments, ditulis pada Perjanjian Lama dalam dua versi; Exodus (20, 1-21) dan Deuteronomy (5, 1-30). Keduanya sama tentang ruhaniah, tapi perbedaan-perbedaannya kentara.Adajuga tulisan yang meliputi kontrak,surat, data diri (hakim, pejabat tinggikota, kartu keluarga), daftar sumbangan dan rampasan. Dalam hal ini, arsip-arsip yang dibuat yang menyediakan dokumentasi untuk editing selanjutnya tentang hasil kinerja definitif ada pada buku-buku yang kita miliki sekarang. Jadi pada tiap-tiap buku terdapat penggabungan jenis literatur yang berbeda-beda. Ini dapat diserahkan kepada para spesialis di bidangnya untuk menemukan kejanggalan dari dokumen-dokumen yang bermacam-macam ini.

Pada mulanya, Perjanjian Lama merupakan keseluruhan dari tradisi lisan. Jadi cukup menarik apabila membanding-bandingkan susunan peristiwa yang terjadi pada periode dan tempat yang berbeda ketika literatur primitif lahir.

Mari kita ambil contoh, kelahiran literatur Perancis pada waktu the Frankish Royalty. Tradisi lisan yang sama mengarahkan pada pemeliharaan perbuatan-perbuatan penting. Peperangan, sering berada pada tekanan (Christianity, peristiwa-peristiwa sensasional bervariasi, di mana para pahlawan sendiri berbeda-beda haluan), yang ditujukan agar pada abad-abad selanjutnya menjadi inspirasi bagi penyair-penyair istana, penulis kronik dan para penulis seri yang bermacam-macam. Ini mulai dari abad ke 11 M. Syair-syair naratif ini, yang mengandung realitas digabungan dengan legenda, menampilkan dan mengangkat monumen pertama pada puisi kepahlawanan. Yang sangat terkenal adalah the Song of Roland (La Chanson de Roland) sebuah nyanyian gereja secara biografis tentang prestasi tentara yang mana Roland merupakan komandan pasukan belakang Emperor Charemagne yang memimpinnya berdasar pengalaman ekspedisi di Spanyol. Pengorbanan Roland tidak hanya sebuah episode cerita. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 15 Agustus 778. itu merupakan sebuah serangan oleh Basques yang tinggal di gunung-gunung. Karya sastera ini bukan hanya sebuah legenda; karya ini memiliki dasar-dasar historis, tapi bukan seorang sejarawan yang menulisnya.

Persamaan antara kelahiran Injil dan literatur sekuler ini terlihat sesuai realita. Ini tidak berarti mempertahankan Injil yang kita kenal sekarang untuk disimpan sebagai kumpulan metologis, yang secara sistematis meniadakan perintah Tuhan. Hal ini sangat mungkin untuk percaya pada realitas dunia, perintah Tuhan kepada Moses pada the Ten Commandments, campur tangan Tuhan pada urusan-urusan manusia, seperti pada waktu Solomon. Pada saat yang sama, ini tidak menghentikan kita dari pertimbangan bahwa apa yang disampaikan kepada kita adalah intisari dari fakta-fakta, dan deskripsi itu harus dikritisi secara teliti, keterangan bahwa partisipasi manusia dalam penulisan tradisi-tradisi lisan secara murni itu sangat besar.

ASAL USUL KEHIDUPAN

Hal. 185

Hal ini sering menarik perhatian manusia, baik dikaitkan dengan dirinya maupun kehidupan di sekitarnya. Di sini akan diuji mulai dari sudut pandang secara umum. Tentang manusia, yang tinggal di bumi dan proses reproduksinya merupakan pembahasan yang sering mencuat, dan akan dihubungkan dengan bab berikutnya.

Ketika al Quran menggambarkan asal usul kehidupan yang paling mendasar, pembahasannya sangat ringkas. Begitu juga ayat yang membahas proses penciptaan alam semesta, telah tercantum pada:

-Surat21, ayat 30:

“Dan apakah orang-orang kafir yang tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jaikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Maksud ‘mengeluarkan sesuatu dari sesuatu’ tidak perlu diragukan. Frase tersebut sama artinya bahwa setiap kehidupan terbuat dari air (sebagai komponen dasarnya) atau setiap kehidupan berasal dari air. Dua kemungkinan tersebut sesuai dengan data ilmiah. Kehidupan pada faktanya berasal dari air dan air merupakan komponen utama dari semua kehidupan sel. Tanpa air, kehidupan tidak mungkin ada. Ketika kehidupan di planet lain dibicarakan, pertanyaan pertama yang selalu muncul: apakah planet tersebut memiliki kandungan air yang cukup untuk mendukung kehidupan?

Data modern mengajak kita berpikir bahwa kehidupan tertua dimiliki oleh kelompok tumbuh-tumbuhan: alga ditemukan pada masa pre-Cambrian, yakni masa penemuan daratan yang paling awal. Organisme kelompok binatang mungkin muncul sedikit-sedikit di masa berikutnya. Hewan juga berasal dari laut.

Yang diterjemahkan di sini menjadi ‘water’ adalah lafad ‘maaun’, yang mana keduanya berarti air di langit dan air di laut, plus bebeapa jenis cairan. Dalam makna yang pertama, air adalah unsur yang dibutuhkan untuk kehidupan semua tumbuh-tumbuhan:

-surat20, ayat 53:

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”

Ini merupakan referensi pertama tentang jenis dalam kelompok tumbuh-tumbuhan. Kita akan kembali ke hal ini di bagian berikutnya.

Makna kedua, cairan tanpa beberapa indikasi jenis apapun yang lebih jelas. Kata ini digunakan dalam bentuk yang tidak secara pasti menunjukkan pada dasar pembentukan semua kehidupan binatang:

-Surat24, ayat 45:

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kita melihat lebih jauh pada bagaimana kata ini (air) bisa juga mewakili makna ‘air mani’.

Apakah ini menunjukkan asal-usul kehidupan secara umum, atau unsur yang mengawali kehidupan tanaman di bumi, atau bibit binatang. Semua pernyaataan tersebut terkandung dalam al Quran pada ayat yang membahas tentang asal-usul kehidupan yang sangat sesuai dengan data ilmiah modern. Tidak ada satupun cerita tentang asal-usul kehidupan yang menandingi seperti halnya yang diungkapkan dalam al Quran.

KELOMPOK TUMBUH-TUMBUHAN

Tidak mungkin semua hal dicantumkan dalam al Quran. Al Quran sedikit menggambarkan dampak positif hujan terhadap tumbuh-tumbuhan. Di bawah ini ada tiga ayat mengenai hal tersebut:

–         Surat16, ayat 10 dan 11

–         Surat6, ayat 99

–         Surat50, ayat 9-11

Al Quran menambahkan penjelasan yang lebih spesifik:

Keseimbangan pada kelompok tumbuh-tumbuhan

–         Surat15, ayat 19

Perbedaan Kualitas Makanan yang Berbeda-Beda

–         Surat13, ayat 4

Menarik untuk mencatat eksistensi ayat-ayat ini karena ayat-ayat ini memperlihatkan tingkat istilah yang digunakan secara sederhana dan tidak ada deskripsi yang dapat menumbuhkan kepercayaan, selain dengan kebenaran-kebenaran yang fundamental. Apa yang menark perhatian kita, itu mengarah pada pernyataan-pernyataan dalam al Quran tentang reproduksi kelompok tumbuh-tumbuhan.

Reproduksi dalam Kelompok Tumbuh-Tumbuhan

Harus diingat bahwa ada dua cara reproduksi pada kelompok tumbuh-tumbuhan: seksual dan aseksual. Hanya pada cara pertama yang mengandung bermacam-macam istilah reproduksi, karena itu menunjukkan proses biologis yang menghasilkan individu baru yang identik dengan proses kelahiran.

Reproduksi aseksual adalah keragaman yang sangat sederhana. Ini merupakan hasil dari fragmentasi organisme yang dipisahkan dari tumbuhan utama dan dikembangkan hingga menyamai tumbuhan utamanya. Gulliermond dan Mangenot menyebutknya sebagai “pertumbuhan khusus”. Contoh yang sangat sederhana adalah setek. Setek berarti mengambil sebagian (memotong) tumbuhan untuk ditempatkan pada tanah yang berair cukup dan diperbaharui dengan pertumbuhan akar-akar baru. Sebagian tumbuhan memiliki organ-ogan yang secara khusus didesign untuknya, sementara yang lainnya melalui sepura seperti benih (harus diingat bahwa benih aalah hasil dari proses reprodksi seksual).

Reproduksi seksual pada kelompok tumbuh-tumbhan melibatkan perkawinan jantan dan betina yang akan memanfaatkan gen untuk menghasilkan tumbuhan yang sama dan berada terpisah dri induknya. Dalam al Quran disebutkan:

–         Surat20, ayat 53

‘Pasangan’ adalah terjemahan dari ‘zauj’ (jamak: azwaj) yang arti aslinya: ‘berkelompok dengan yang lain, membentuk pasangan’; Kata ini digunakan hanya untuk pasangan pernikahan seperti juga digunakan untuk sepasang sepatu.

–         Surat22, ayat 5

–         Surat31, ayat 10

–         Surat13, ayat 3

Kita mengetahui bahwa buah adalah produk akhir dari proses reproduksi dari tumbuh-tumbuhan yang bagus yang memiiki perkembangan sangat tinggi dan organisasi yang komplek. Sebelum buah yang didahului dengan bunga, yang mengandung organ-organ jantn dan betina (benang sari dan putik). Kemudian, sekai penyerbukan terjadi, membuah, ada yang hingga matang, ada juga yang jatuh dari pohon menjadi benih. Ini maksud dari ayat al Quran di atas.

Harus dicatat bahwa untuk spesies-spesies tertentu, buah dapat berasal dari bunga yang tidak dibuahi (parthenocarpic fruit), contohnya: pisang, jenis nanas tertentu, buah ara, jeruk dan anggur. Buah-buahan itu juga bias berasal dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki karakteristik seksual tertentu.

Puncak proses reproduksi ditandai dengan pengecambahan bibit pada saat kulit terkelupas (kadang-kadang terkelupas dengan rapi). Pengelupasan ini membiarkan akar-akar tumbuh ke tanah yang mana akar tersebut akan dibutuhkan untuk kehidupan tumbuh-tumbuhan tersebut untuk tumbuh dan menghasilkan tumbuhan baru.

Di bawah ini ayat al Quran yang berkenaan dengan proses pengecambahan:

–         Surat6, ayat 95:

Al Quran sering menegaskan eksistensi dari komponen-komponen pasangan dalam kelompok tumbuhan ini dan membawa makna pasangan itu ke dalam konteks yang lebih umum dan tidak terbatas:

–         Surat36, ayat 36

Ini dapat membentuk beberapa hipotesis mengenai “sesuatu yang tidak diketahui manusia” pada zaman Nabi Muhammad. Sekarang dapat dibedakan antara struktur dan fungsi-fungsi perkawinannya, muali tumbuhan yang sangat kecil hingga yang sangat besar, baik organisme yang perkembangan hidupnya kentara maupun yang tidak. Hal ini mengingatkan lagi secara jelas mengenai pemkiran-pemikiran dan catatan yang mereka kaji sesuai dengan sains modern.

KELOMPOK BINATANG

Terdapat beberapa hal dalam al Quran mengenai kelompok binatang yang dihubungkan dengan sains modern. Di sini juga, hanya akan mendapat pandangan secara umum mengenai kelompok binatang dalam al Quran. Dalam bagian ini, penciptaan unsure-unsur tertentu dalam kelompok binatang digambarkan dengan harapan manusia dapat memperhatikan Keagungan Tuhan di hadapannya. Pada dasarnya pembahasan dalam al Quran bertujuan untuk menggambarkan adaptasi yang harmonis antara bumi dan kebutuhan-kebutuhan manusia; Ini menyangkut hal-hal tertentu dari orang-orang yang tinggal di pedesaan, menerangkan bahwa kajian sesuatu tidak bias didasarkan hanya pada satu sudut pandang.

–         Surat16, ayat 5 sampai 8:

Dalam kata-kata di bawah ini, al Quran menjelaskan data-data tertentu mengenai hal-hal yang sangat bermacam-macam:

–          Reproduksi kelompok binatang

–          Referensi tentang eksistensi komunitas binatang

–          Statement mengenai lebah, laba-laba dan burung

–          Kata-kata mengenai sumber susu binatang

  1. Reproduksi Kelompok Binatang

Di bawah ini dijelaskan dalam Q.S. ayat 5 dan 6.

Kata ‘pasangan’ adalah pernyataan yang sama yang telah ditemukan dalam ayat-ayat yang berkenaan dengan reproduksi keompok tumbuh-tumbuhan. Di sini, sex dilibatkan. Yang dapat dicatat adalah pernyataan bahwa sejumlah kecil cairan dibutuhkan untuk reproduksi. Istilah cairan itu biasa dinamakan sperma. Relevansi istlah ini akan dibahas pada bab selanjutnnya.

  1. Referensi Eksistensi Komunitas Binatang

–         Surat6, ayat 38

Terdapat beberapa hal dalam ayat ini yang menjadi pembahasan. Pertama, ada deskrpsi tentang apa yang akan terjadi dengan binatang setelah mati: Islam tidak menjelaskannya secara jelas. Kemudian terdapat takdir yang akan dibahas sepintas di sini. Mencakup takdir yang pasti dan tidak pasti, yakni: keterbatasan struktur dan organisasi fungsional yang mempengaruhi tindak-tanduknya: binatang itu bertindak berdasarjab gerak hati yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi tertentu.

Blachere menyatakan bahwa ahli tafsir terdhulu, seperti Razi, berpikir bahwa ayat ini hanya mengacu pada tindakan insinktif sebagai bentuk penyembahan binatang kepada Tuhan. Syaikh Si Boubakeur Hamza, dalam tafsir al Qurannya mengatakan: “Instink berdasar ke-Maha Bijaksanaan Tuhan, mendorong binatang untuk hidup bersama, sebagai tanda bahwa mereka saling ketergantungan satu sama lain”.

Tindak-tanduk binatang sangat diperhatikan dalam decade saat itu, dengan hasil bahwa komunitas binatang yang asli sudah terlihat exist. Tentunya, sampai sekarang hasil-hasil dari tindak-tanduk suatu kelompk atau komunitas telah diuji dan ini sudah mengarah pada sebuah organisasi komunitas binatang. Organisasi komunitas ini memiliki mekanisme-mekanisme yang mengarahkan organisasi ini, dibutuhkan spesies tertentu

Kajian yang teruji dan tidak diragukan lagi menyatakan bahwa lebah memiliki tindakan yang saling bekerja sama, menurut Von Frish. Von Frish, Lorenz dan Tinbergen menerima Nobel Prize tahun 1973 untuk karya mereka dalam bidang itu.

  1. Statement tentang Lebah, Laba-Laba dan Burung

Ketika para spesialis memberikan contoh organisasi yang sangat besar yang berpengaruh pada tindak-tanduk binatang, kemungkinan binatang itu mengacu pada lebah, laba-laba dan burung ) khususnya burung-burung yang terbang). Apapun masalahnya, tidak diragukan lagi bahwa tiga kelompok binatang ini merupakan model organisasi yang berkembang secara cepat

Fakta bahwa ayat al Quran di atas mengacu pada  tiga kelompok binatang itu terutama pada karakter masing-masing binatang ini berdasarkan sudut pandang ilmiah.

–         Surat16, ayat 68 dan 69

Sulit untuk mengetahui secara pasti maksud Tuhan itu, jika itu tidak disajikan dalam istilah-istilah umum. Semua mungkin berkata, dengan memperhatikan ilmu pengetahuan tentang tindak-tanduk binatang itu – seperti yang dicontohkan dalam al Quran – terdapat sebuah organisasi yang mendukung tindakan binatang itu. Diketahui bahwa pola tarian seekor lebah berarti komunikasi dengan lebah lainnya; dalam hal ini, lebah dapat menunjukkan spesiesnya terhadap arah dan jarak bunga-bunga yang lezat untuk diserap. Eksperimen terkenal yang dilakukan Von Frisch membahas tentang makna pergerakan serangga yang bermaksud mentransfer informasi antara lebah-lebah pekerja.

Laba-Laba

Laba-laba disebutkan dalam al Quran untuk menjelaskan rumahnya yang mudah rusak. Laba-laba itu memiliki tempat berlindung dari bahaya. Allah berfirman:

–         Surat29, ayat 41:

Jaringan laba-laba sperti benang-benang sutera yang terbuat dari kelenjarnya dan kemampuannya sangat rapi. Kelemahannya tidak boleh ditiru oleh manusia.

Parapeneliti tertarik oleh pola kerja yang sangat bagus yang dilakukan oleh sel-sel nervous binatang itu, yang memungkinkan untuk menghasilkan jaringan sempurna secara geometris.

Burung

Burung sering disebut-sebut dalam al Quran. Burung-burung itu muncul pada masa kehidupan Abraham, Joseph, David, Solomon dan Jesus. Referensi ini tidak berkaitan dengan kekuasaan.

Ayat di bawah ini membahas eksistensi komunitas binatang di bumi dan komunitas burung di langit seperti yang telah dibahas di atas.

–         Surat6, ayat 38

Dua ayat lainnya menggarisbawahi ketaatan burung kepada kekuasaan Tuhan:

–         Surat16, ayat 79

–         Surat67, ayat 19

Terjemahan  harfiah masing-masing ayat ini adalah masalah yang sangat sulit. Terjemahan itu menjelaskan bahwa Tuhan mengjaga burung dengan ke-Mahakuasaan-Nya. Dalam bahasa Arabnya ‘Amsaka’, yang berari ‘melindungi, menangkap, memegang, menyembunyikan sesuatu di belakang’.

Sebuah perumpamaan yang jelas terdapat pada ayat-ayat itu, yang menekankan ketergantungan burung pada aturan Tuhan, data modern menggambarkannya dengan mengkaji spesies-spesies burung tertentu dengan memperhatikan pergerakannya. Hanya eksistensi berpindahnya dalam genetic burung yang dapat menghitung berpa lama dan kompleksnya perjalanan burung-burung yang sangat muda, tanpa pengalaman dan bimbingan, untuk menempuhnya. Ini tambahan untuk kemampuannya dalam menentukan waktu perjalanan hidupnya. Prof. Hamburger daam bukunya, Power and Fragility (La Puissance et la Fragilitie), memberikan contoh tentang ‘mutton bird’ yang tinggal di Pasifik, dengan perjalannya 15.500 mile. Harus diakui bahwa instruksi-instruksi yang sangat rumit untuk perjalanan ini harus dimiliki sel-sel nervous burung. Itu program yang sangat kompleks, tapi siapa pembuat program itu?

  1. Sumber Susu Binatang

One response to “KEAUTENTIKAN AL QURAN

  1. I have read several good stuff here. Certainly price bookmarking for revisiting. I surprise how a lot effort you place to create this kind of great informative web site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s