Etika Profesi

Etika Profesi

terjemahan

Etika profesi fokus pada isu-isu moral yang timbul karena perkembangan ilmu pengetahuan para professional, dan untuk mengetahui bagaimana penggunaan ilmu ini dalam melayani publik.

Tanggung jawab profesi

Profesi mengandung tanggung jawab moral yang dapat dimiliki oleh masyarakat pada umumnya. Profesi merupakan kemampuan untuk membuat dan melakukan suatu keputusan dalam situasi-situasi yang tidak dapat dilakukan publik, karena mereka tidak mendapatkan training yang relevan. [2] Contohnya, orang awam tidak bertanggung jawab terhadap korban yang tertabrak mobil dalam hal memberikan pertolongan emergency-nya. Ini karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang relevan. Tetapi, apabila seorang dokter yang terlatih (dengan perlengkapan tepat), memiliki kemampuan untuk mendiagnosis dan melakukan prosedur pengobatan akan disalahkan jika mereka (dokter) berdiri saja dan gagal memberikan penanganan kesehatan dalam situasi ini. Anda tidak diminta pertanggung jawaban atas tindakan yang gagal, jika anda tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Pengetahuan tambahan ini juga muncul bersama otoritas dan kekuatan. Client berlaku jujur dalam profesinya, maka akan mendatangkan manfaat kepadanya. Sangat mungkin jika seorang professional menggunakan otoritas untuk mengeksploitir client.[3] Contohnya seorang dokter gigi yang melayani pasien dengan bayaran pengobatan yang sangat mahal. Maka si pasien tidak akan berpikir panjang tentang apa yang harus dilakukan, selain segera mencoba dan membayar pengobatannya.

Kode-kode praktis

Pertanyaan-pertanyaan muncul terhadap keterbatasan etika profesi dan bagaimana kalau kekuatan dan otoritas digunakan untuk melayani client dan masyarakat. Banyak sekali profesi yang secara internal menerapkan kode etik praktek yang harus dipatuhi para anggotanya, untuk mencegah eksploitasi terhadap client dan mempertahankan integritas profesi. Ini tidak hanya bermanfaat bagi client, tapi bermanfaat pula bagi yang mengemban profesinya. Contohnya, perusahaan Amerika menganjurkan seorang insinyur untuk melakukan pengamanan terhadap proyeknya. Sementara insinyur itu menolak menyelesaikan proyek berdasarkan dasar-dasar moral, perusahaan itu mungkin akan menemukan kebobrokan si insinyur, dan ini akan membutuhkan lagi biaya perbaikan selanjutnya.[4] Kode disipliner memungkinkan profesi dapat menggambarkan standar tindakan dan menjamin bagian pelaksana untuk mengetahuinya, dengan meningkatkan kedisiplinan mereka jika tidak mematuhinya. Ini memungkinkan para professional yang dengan tulus mempraktekkan pengetahuannya tidak akan terpengaruh oleh mereka yang kurang beretika. Ini juga memelihara kepercayaan publik terhadap profesi tersebut, sehingga publik tidak akan kapok untuk datang lagi di kemudian hari.

Permasalahan dengan regulasi internal

Ada beberapa pertanyaan seputar validitas kode etik profesi. Secara  praktis, bagi profesi sendiri sangat sulit untuk memonitor hal praktis, tidak mungkin aturan itu dapat berjalan sendiri. Ini karena profesi bersifat hampir masuk ke semua bidang pengetahuan. Contohnya, hingga saat ini, pengadilan Inggris membedakan penerapan hukum dan perundang-undangan.

Separatisme

Secara teoritis, terdapat perdebatan tentang apakah kode etik profesi akan konsisten dengan syarat moralitas yang mengatur kehidupan masyarakat. Terdapat argumen yang berbeda bahwa profesi harus diakui sebagai batasan ketika mereka  menganggapnya sebagai kebutuhan. Ini karena mereka dicoba untuk menghasilkan outcome tertentu yang mengutamakan moral dibanding fungsi-fungsi sosial lain.[6] Contohnya, akan setuju jika seorang dokter berbohong terhadap pasien tentang kondisi kritis yang dideritanya, yang apabila diberitahukan akan menambah kondisi pasien lebih parah dan mengganggu kesehatannya. Dokter tersebut tidak akan disalahkan pasien, karena telah memberikan informasi yang tidak sebenarnya. Padahal dalam makna umum secara moral tindakan itu salah. Tetapi, untuk memprioritaskan pada penyembuhan dan pemelihaaan kesehatan masyarakat, maka menentang moral dalam makna umum, dapat dibenarkan dalam rangka mencapai tujuan. [7] Konsepsi moralitas relatif bisa berbeda, pengaplikasian kode moral yang sama dapat disesuaikan dengan kondisi lapisan masyarakat yang berbeda-beda (lihat relativisme moral). Jika universalisme moral ditinjau kembali, maka pandangan bahwa ‘profesi bisa memiliki kode moral yang berbeda-beda’ dianggap tidak konsisten, karena bertentangan dengan pernyataan bahwa ‘hanya ada satu kode moral valid untuk semuanya’. [8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s