Code Duello: Aturan Berduel

Code Duello: Aturan Berduel

Kategori: Kultur, budaya, cerita ilmiah

Dicetak kembali dari: “American Duels and Hostile Encounters,” Chilton Books, 1963.

Code Duello, memuat praktek berduel dan pokok-pokok penghormatan, disampaikan dan diajukan pada Clonmel Summer Assizes, 1777, oleh para delegasi Tipperary, Galway, Sligo, Mayo dan Roscommon, dan ditulis untuk adopsi umum di seluruh Irlandia. Undang-undang itu biasanya diikuti juga di Inggris dan di Benua Eropa (selain Inggris) dengan beberapa variasi kecil. Di Amerika, aturan dasar itu diikuti, walaupun adakalanya terdapat beberapa penyimpangan yang mencolok.

Aturan 1. Yang pertama melanggar harus meminta maaf duluan, walaupun jawaban mungkin lebih menyerang daripada menghina. Contoh: A berkata pada B dia tidak sopan, dll. B menjawab bahwa dia berbohong; maka A harus meminta maaf terlebih dahulu karena dia membuat pelanggaran terlebih dahulu, dan kemudian (setelah A meminta maaf) B bisa menjelaskan jawaban dengan permintaan maaf berikutnya.

Aturan 2. Tapi jika kedua pihak itu memilih bertarung, maka setelah dua pihak saling serang (tapi tidak seperti kasus sebelumnya), B bisa meminta maaf duluan, dan A meminta maaf setelahnya.

N.B. Aturan-aturan di atas menggunakan semua kasus pelanggaran pada jawaban kelas yang lebih sederhana daripada kasus yang ada  pada contoh.

Aturan 3. Jika keraguan muncul di pihak yang pertama melanggar, pengambilan keputusan diberikan kepada pihak kedua; jika keduanya tidak akan memutuskan, atau tidak setuju, masalah harus berlanjut dengan mengabaikan dua serangan, atau menjadi sebuah pukulan, jika penantang memintanya.

Aturan 4. Ketika arah kebohongan merupakan pelanggaran pertama, penyerang harus mengungkapkan permintaan maaf; menggantikan dua serangan sebelumnya menjadi permintaan maaf; atau tiga serangan yang ditindaklanjuti dengan penjelasan; atau bertarung hingga pukulan keras diterima oleh satu pihak atau keduanya.

Aturan 5. Sebagaimana pelarangan keras sebuah pukulan dijatuhkan pada hadirin dalam keadaan apapun, tidak ada permintaan maaf lisan yang dapat diterima untuk penghinaan seperti itu. Jadi, alternatifnya—pelanggar memberikan rotan kepada pihak terluka, untuk dipukulkan pada punggungnya, pada waktu yang sama mengajukan permohonan maaf; bertarung hingga satu atau keduanya roboh (kalah); atau mengabaikan tiga serangan, dan kemudian meminta maaf tanpa melibatkan rotan.

Jika pedang yang digunakan, kedua pihak itu berkelahi hingga salah satunya babak belur (bercucuran darah), roboh, atau dilucuti; atau hingga, setelah terluka, dan berdarah-darah, penyerang meminta maaf.

N.B. A terlucuti dianggap sama dengan kalah. Pelucut senjata bisa (dengan keras) melucuti pedang lawannya; tapi jika penantang yang terlucuti, itu dianggap terpaksa melakukannya.

Dalam kasus pihak tertantang yang terlucuti dan menolak untuk meminta ampun atau bertobat, dia tidak harus dibunuh, seperti pendahulunya; tapi penantang bisa meletakkan pedang pada bahu penyerang, kemudian melucuti pedang penyerang dan berkata, “Saya sisakan hidupmu!” Pihak tertantang dapat berhenti bertanding—penantang dapat mengabulkan permintaan untuk berhenti itu.

Aturan 6. Jika A berbohong kepada B, dan B membalas dengan pukulan (dua pelanggaran terbesar), tidak ada perdamaian yang dapat dilakukan hingga setelah keduanya berhenti, atau sebuah pukulan keras; ketika B dapat menerima permohon maaf A dengan setulus hati atas pukulan tersebut dan kemudian A dapat menjelaskan tentang kebohongan itu secara sederhana; karena sebuah pukulan tidak pernah diperbolehkan, seperti halnya pelanggaran kebohongan, maka jadilah sebuah gabungan masalah (Lihat aturan-aturan sebelumnya).

N.B. Tantangan-tantangan untuk perkara rahasia dapat didamaikan di atas arena pertandingan, setelah satu serangan. Sebuah penjelasan atau pukulan ringan harus cukup dalam kasus seperti ini, karena tidak boleh ada pelanggaran personal yang terjadi.

Aturan 7. Tapi tidak ada permintaan maaf yang dapat diterima, dalam kasus apapun, setelah kedua pihak itu benar-benar berdamai, tanpa saling menyerang.

Aturan 8. Dalam kasus di atas, tidak ada penantang yang diharuskan membuka rahasia alasan tantangannya (jika menyangkut pribadi) jika tidak diminta oleh pihak tertantang sebelum pertemuan keduanya.

Aturan 9. Semua tuduhan penipuan pada permainan, pertarungan, dll., dianggap ekuivalen dengan sebuah pukulan; tapi dapat didamaikan setelah satu serangan, pada pengakuan kebohongannya dan permintaan maaf di depan umum.

Aturan 10. Penghinaan apapun kepada seorang wanita yang berada di bawah perhatian dan perlindungan seorang laki-laki dianggap sebagai, dengan satu sebutan, sebuah pelanggaran yang lebih besar daripada jika ditujukan kepada laki-laki itu secara personal (langsung), maka hal ini harus diatur.

Aturan 11. Pelanggaran berawal atau bertambah dari dukungan reputasi wanita, dianggap dapat dibenarkan di atas aturan yang lainnya dalam kelas yang sama, dan sebagai pengakuan permintaan maaf ringan oleh penyerang: ini ditentukan oleh keadaan kasusnya, tapi selalu menguntungkan wanita.

Aturan 12. Secara sederhana, masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan pedang, atau couteau de chasse, aturannya adalah—first draw, first sheath, jika tidak berdarah; maka keduanya sheath, dan berlanjut ke investigasi.

Aturan 13. Tidak ada pukulan atau serangan yang bodoh dalam suasana itu yang dapat diterima dalam kasus apapun. Penantang tidak harus menantang tanpa menerima pelanggaran; dan pihak tertantang harus, jika dia melakukan pelanggaran, membuat permintaan maaf sebelum dia datang di atas arena pertandingan; dengan demikian, permainan kekanak-kanakan pada satu pihak atau yang lainnya tidak harus dihormati, maka hal ini dilarang.

Aturan 14. Sikap kedua dapat memperoleh kedudukan yang sama di masyarakat dengan prinsip-prinsip yang mereka ikuti, karena sebagai yang kedua bisa terpilih atau berubah menjadi sebuah prinsip, dan persamaan itu tidak terabaikan.

Aturan 15. Tantangan-tantangan tidak pernah disampaikan pada malam hari, jika pihak tertantang tidak bermaksud meninggalkan tempat pelanggaran sebelum pagi; karena itu sangat diperlukan untuk menghindari semua cara berpikir kasar.

Aturan 16. Pihak tertantang berhak memilih senjata miliknya, jika penantang tidak menghormatinya, dia bukan pemain pedang; karena itu, penantang dapat menolak jenis apapun dari senjata kedua yang diusulkan oleh pihak tertantang.

Aturan 17. Pihak tertantang memilih arena pertandingannya; penantang memilih jaraknya; yang kedua memastikan waktu dan lama pertandingan.

Aturan 18. Keduanya membebani kehadiran masing-masing, jika mereka tidak saling menghormati berarti mereka telah mengotori pertandingan tunggal dan halus, yang harus diselesaikan dengan menyenangkan.

Aturan 19. Perkelahian dapat diatur—pertama dengan tanda, kedua dengan komando; atau ketiga, dengan sesuatu yang menyenangkan—sebagaimana yang dapat disetujui kedua pihak. Dalam kasus selanjutnya, kedua pihak itu dapat bertarung pada waktu yang layak, tapi pertandingan dan istirahat kedua sangat dilarang.

Aturan 20. Dalam semua kasus perkelahian yang keliru ekuivalen dengan sebuah serangan, dan sebuah gigitan atau tindakan tidak jantan dianggap sebagai perkelahian keliru.

Aturan 21. Waktu singkat untuk mengupayakan perdamaian dilakukan sebelum pertemuan diadakan, atau setelah perkelahian atau pukulan dianggap cukup, sebagaimana telah ditetapkan.

Aturan 22. Luka apapun cukup menimbulkan kegelisahan dan harus bersalaman, harus mengakhiri pertandingan pada hari itu juga.

Aturan 23. Jika pada pertemuan itu tidak ada permintaan maaf atau penjelasan yang dapat atau akan diterima, pihak tertantang masuk ke arena pertandingan, dan memanggil penantang untuk berlanjut sebagaimana yang dia pilih; dalam kasus seperti itu, perkelahian yang menyenangkan merupakan tindakan yang lazim, tapi dapat diubah dengan kesepakatan.

Aturan 24. Dalam kasus sederhana, pihak kedua memegang prinsipnya tapi yang satu lagi menggunakan pistol; tapi dalam kasus-kasus besar, keduanya, memegang alasan lain yang siap dijadikan cadangan.

Aturan 25. Ketika pihak kedua tidak setuju, dan memutuskan untuk saling menyerang, pada waktu yang sama dan sudut pandang yang benar mereka harus memegang prinsipnya, dengan demikian:

Jika dengan pedang, jarak keduanya adalah lima langkah.

N.B. Semua hal dan keraguan yang tidak disebutkan di sini akan dipaparkan dan diperjelas oleh panitia sesuai permintaan, yang bertemu secara berurutan di Clonmel dan Galway, pada sesi tiga bulan, untuk tujuan tersebut.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/amex/duel/sfeature/rulesofdueling.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s