PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN

PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN

 

Coretan tinta ini ditulis berdasarkan hasil renungan Penulis selama berkiprah di dunia pendidikan. Ditulis dengan harapan dapat menjadi bahan renungan, baik bagi para generasi yang baru ingin memulai berkiprah di dunia pendidikan, maupun yang sudah berpengalaman tapi jarang memikirkannya.

1.      Haruskah guru menjadi profesional?

Harus. Tapi, mari bayangkan. Apabila guru (honorer) hanya mendapat honor Rp 7.000 atau 10.000 atau 15.000 per jam pelajaran dan dibayar hanya dalam jangka waktu satu minggu untuk satu bulan, maka perhitungannya sebagai berikut:

  • Misalnya seorang guru honor Rp 10.000 per jam pelajaran
  • Jam mengajar dalam satu hari: 6 jam
  • Seandainya mengajar full dalam seminggu, maka 6 jam x 6 hari = 36 jam
  • Maka total honor Rp 10.000 x 36 jam = Rp 360.000
  • Jadi, guru itu hanya mendapat Rp 360.000 dalam satu bulan, karena tidak dikali 4 minggu (inilah realita pendidikan).

Silahkan hitung-hitung dengan biaya kehidupan sehari-hari plus kebutuhan buku referensi pelengkap, apalagi harus melanjutkan perkuliahan.

Sebagai informasi:

  • Kuliah Strata Satu kira-kira Rp 300.000 per bulan
  • Andaikan makan cukup Rp 10.000 per hari
  • Buku Rp 25.000 per buku
  • Harus diingat juga, belum tentu guru honorer itu memiliki jadwal full dalam seminggu.

Jadi, di manakah kesempatan mengembangkan diri untuk menjadi guru honorer yang profesional? Mungkinkah? Pastikah? Atau Mustahil? Silahkan saja hitung sendiri pendapatan dan pengeluaran yang terinci di atas.

Harus diingat pula, problematika seperti di atas tidak hanya terjadi di sekolah menengah, tapi mungkin juga terjadi di perguruan tinggi yang notabene dosen harus memiliki referensi yang sangat banyak, sementara pendapatannya sangat minim. Maka, jangan aneh kalau banyak dosen yang tidak dapat menjalin komunikasi dengan baik dengan mahasiswanya. Jangankan menjawab pertanyaan mahasiswa dengan tepat, menyampaikan pokok bahasan saja tidak jelas (kalau tidak pantas dikatakan tidak mampu). Maaf tidak semua dosen dan guru dirundung masalah ini, tapi mungkin agak banyak jumlahnya (perlu penelitian dulu nih)

2.      Haruskah seorang guru meminta atau menagih honor kepada bendahara sekolah?

Saya pikir ini tidak perlu terjadi. Selain honornya tidak terlalu besar, dapat terlihat ketika seorang guru mengajar itu menandakan harus sinkronnya antara kewajiban dan hak. Kewaijaban guru adalah mendidik dan hak guru adalah mendapat honor (salah satunya). Maka segerakanlah honor guru itu, sesuai waktunya (tidak perlu ditagih). Kalaulah guru harus menagih honor tiap bulan, apa bedanya guru dan tukang tagih dari dunia perkreditan. Sementara tugasnya jelas-jelas sangat berbeda. MENURUT KABAR BURUNG, HAL INI MASIH TERJADI DI BEBERAPA INSTITUSI PENDIDIKAN.

3.      Karakteristik pengajar yang menggelikan:

  • Kurang menguasai materi; jangankan bisa dipahami, suaranya saja tidak terdengar
  • Hanya memperhatikan kehadiran (ini biasanya dipengaruhi oleh sistem pendidikan di suatu lembaga, khususnya di perguruan tinggi).

Menurut cerita teori pendidikan bahwa guru itu hanya sebagai mediator, tapi kenapa tidak bisa memediasi siswa/mahasiswa. Kurang elok, kalau ada mahasiswa tidak hadir divonis nilai jelek, sementara mahasiswa yang hadir tapi hanya pelengkap ruangan dikatakan bagus dan disiplin. Tidak adakah alternatif bagi mahasiswa yang tidak hadir untuk diberikan kesempatan berkarya seperti membuat makalah tentang materi mata kuliah yang bersangkutan, kemudian mahasiswa disuruh membahasnya di depan dosen. Bukankah dengan langkah berkarya ini akan memungkinkan mahasiswa Indonesia terbiasa untuk menulis, mengingat masih sangat minimnya manusia Indonesia yang suka menulis, baik siswa, mahasiswa, guru, bahkan dosen sekalipun.

Bayangkan saja, apabila ada dosen yang sangat terlambat memberi pokok bahasan (silabus/SAP) plus referesi terkait mata kuliahnnya kepada mahasiswa, maka ini bukan hanya akan membuat mahasiswa yang hanya mampu menunggu mencatat materi dari dosen (pendengar setia) tapi menandakan bahwa dosen itu tidak berani tersaingi mahasiswanya.

Dosen Penulis pernah mengatakan bahwa: perbedaan dosen dan mahasiswa itu hanya beda tingkat kecepatan memperoleh informasi, dosen malam hari sebelum perkuliahan berlangsung membaca terlebih dahulu, sementara mahasiswa tidak. Maka, andaikan perkataan dosen Penulis itu dibalik, maka sangat mungkin mahasiswa akan mengalahkan dosennya, baik itu dosen baru, guru besar, profesor atau apapun gelarnya, mengingat dunia maya (internet) seperti Mr. Google telah siap menyajikan bahan kuliah yang seabreg jumlahnya.

  • Tidak ada komunikasi di luar perkuliahan

Penulis sempat mendengar pengajar berkata: bukan saya yang butuh tapi anda yang dibutuh, maka anda-lah yang harus aktif dalam perkuliahan (ungkapan ini biasanya ditujukan kepada mahasiswa atau siswa).

Ungkapan di atas membuat miris Penulis, karena ketika mahasiswa tidak aktif, maka si dosen tak memperdulikannya. Padahal, mahasiswa akan aktif kalau ada stimulus dari dosennnya (salah satu faktor). Maka, kalau mahasiswa tidak aktif, berarti boleh jadi dosennya kurang memberikan stimulus (kalau tidak boleh dikatakan gagal).

Hal biasa kalau ada mahasiswa menelopon dosennya, tapi kenapa dosen merasa enggan untuk menelopn mahasiswanya. Sungguh mengherankan, bukankah yang menginginkan seorang anak sukses itu sangat dimiliki oleh orang tuanya. Mengapa dosen tidak demikian kepada mahasiswanya? Mari merenung bersama-sama!

Kasus lain, siswa diminta agar mendapat nilai yang bagus, disuruh belajar, disuruh membaca, disuruh menghapal, sementara pengajar tidak memberikan cara bagaimana belajar, membaca, dan menghapal yang cepat dan tepat. Jangankah memberi cara jitu belajar, bahkan pengajar itu tidak  ada usaha keras untuk bercita-cita agar peserta didiknya mendapat nilai terbaik (misalnya: ikut mendoakan anak didik, ikut gelisah, ikut tegang, perasaan ini jarang terjadi dalam ulangan harian, karena pengajar sudah merasa cukup dengan materi yang telah disampaikannya).

Maaf, di sini mengambil kata pengajar bukan pendidik, dengan tujuan menghormati makna kata pendidik yang nilainya sangat luhur.

4.      Profesionalisme guru dapat terlihat salah satunya ketika siswa-siswi menghadapi UN (Ujian Nasional)

Banyak siswa yang sangat tegang menghadapi UN. Tegang ini bermakna tidak siap (analisis Penulis). Kalau siswa tidak siap menghadapi UN, berarti faktor dominan yang mempengaruhinya adalah karena materi yang disampaikan guru tidak dipahami secara komprehensif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru itu tidak mampu menjalankan perannya secara profesional. Salahkah guru? Ya, salah. Apakah kesalahan ini hanya ditanggung guru saja? TIDAK. Semua stakeholders, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan dan semua pihak yang terkait dengan pendidikan harus ikut menanggung atau mengakui kelemahannya masing-masing, yakni kurang memperdulikan pengembangan kemampuan seorang guru, misalnya: tidak memberikan bantuan buku, kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bentuk kesempatan lainnya yang dapat menggali mengembangkan potensi  guru tersebut. Ini terlihat dengan biaya pendidikan yang selangit dibanding pendapatan guru.

5.      Haruskah guru/dosen menutupi ketidakmampuannya kepada peserta didik?

Ini terlihat ketika mahasiswa bertanya tentang yang belum diketahui dosen. Biasanya dosen itu berusaha untuk menjawab pertanyaan itu, walaupun tidak tahu kebenarannya. Kenapa sih tidak berani berkata: MAAF SAYA BELUM TAHU? Toh jawaban ini tidak akan merusak reputasi seorang dosen, selama ia mau belajar dan belajar lagi.

Akan tetapi, kabar gembira ternyata baru-baru ini para profesor sudah banyak yang mengakui bahwa mereka TIDAK TAHU. Kabar ini didapatkan dari seseorang mahasiswa pascasarjana (S2) program beasiswa DEPAG. Semoga benar adanya.

6.      Damaikah antara Yayasan dan guru? Pengertiankah pemerintah terhadap guru? Jawablah pertanyaan ini dengan mata hati agar kita mendapat solusi. Silahkan renungkan beberapa peristiwa yang masih hangat saat ini seperti sertifikasi yang mengundang orang melirik dan tertarik untuk menjadi guru.

Demikianlah untaian kata dari sederet tombol-tombol keyboard. Kalaulah ini dianggap kurang layak dikatakan tulisan, biar katakan saja sebagai curhat Penulis yang selama ini masih merasa resah dan gelisah melihat potret pendidikan di bumi tercinta ini, Indonesia. Semoga apa yang dilihat penulis itu salah adanya, tapi kalau-lah benar, bahkan lebih semerawut dari itu, semoga dunia pendidikan kita segera mendapatkan solusinya. Salam sukses bagi para pendidik semua!

****

MATERI TAMBAHAN

 

Contoh SAP (Satuan Acara Pengajaran)

Pertemuan Instruksi Umum Topik Sub Topik Penugasan Metode Evaluasi

Sumber: SAP LP3I Tasikmalaya

Contoh SK untuk seorang guru atau dosen terlampir:

SK ini dilampirkan agar menjadi bahan persiapan bagi para penyelenggara pendidikan untuk segera memberikannya kepada guru, karena pada saat tertentu SK tersebut akan dibutuhkan.

Halaman selanjutnya memuat lampiran tentang daftar beberapa contoh format SK tersebut, yaitu:

  • SK Yayasan
  • SK Kepala Sekolah
  • Surat Tugas Mengajar
  • Surat Perjanjian Kerja

 

Download (doc)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s