PEMAHAMAN TERHADAP ISLAM

PEMAHAMAN TERHADAP ISLAM

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh: Komarudin Tasdik

https://komarudintasdik.wordpress.com

Bab Satu

Pengertian Islam

Setiap agama dunia telah dinamai baik setelah pendirinya atau setelah suatu komunitas atau bangsa lahir. Sebagai contoh, Christianity mengambil nama dari nabinya Jesus Christ; Buddhism dari pendirinya, Gautama Buddha; Zoroastrianism dari pendirinya Zoroaster; dan Judaism, agama Jews, dari nama suku Judah (bagian dari negara Judea) tempat ia berasal. Sama halnya dengan semua agama lain kecuali Islam, yang menikmati perbedaan unik yang tidak berhubungan dengan orang atau masyarakat atau negara tertentu. Islam juga bukan produk pikiran manusia. Islam adalah agama universal dan bertujuan untuk menciptakan dan menanamkan kualitas dan sikap Islami pada manusia.

Faktanya, Islam, merupakan titel atributif. Barang siapa yang memiliki atributnya, apapun ras, komunitas, negara atau golongan yang dimilikinya, adalah Muslim. Berdasarkan Qur’an (Kitab Suci Muslim), di antara manusia dan berbagai usia terdapat orang-orang baik dan berbudi yang memiliki atribut tersebut—maka semuanya itu adalah Muslim.

Islam—Apakah Artinya?

Islam adalah kosakata bahasa Arab dan mengandung arti ketundukan, kepasrahan dan kepatuhan. Sebagai sebuah agama, Islam bertujuan untuk menyempurnakan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah.[1]

Setiap orang  dapat melihat bahwa kita hidup di alam semesta yang teratur, di mana segala sesuatu menempati tempat dengan skema besar. Bulan, bintang-bintang dan semua bintang di langit bersama-sama dalam sistem yang bagus sekali. Benda-benda itu mengikuti hukum yang tidak dapat diubah dan tidak bergeser sedikitpun dari takdir yang telah ditetapkan. Demikian pula, segala sesuatu di dunia, dari elektron yang berputar tiap menit sampai nebulae yang hebat, selalu mengikuti hukumnya masing-masing. Zat, energi dan kehidupan—semua mentaati hukumnya dan tumbuh, berubah, hidup, serta mati berdasarkan hukum-hukum itu. Bahkan dalam dunia manusia hukum alam merupakan yang tertinggi. Kelahiran, pertumbuhan dan kehidupan seorang manusia semuanya diatur oleh rangkaian hukum-hukum biologis. Dia mendapatkan makanan dari alam berdasarkan hukum yang tidak data diubah. Semua organ tubuhnya, dari jaringan terkecil hingga hati dan otak, diatur dengan hukum-hukum yang ditentukan untuknya. Pendek kata, milik kita adalah alam yang diatur hukum dan segala sesuatu yang ada di dalamnya mengikuti takdir yang telah ditetapkan untuknya.

Kekuatan ini, semua dapat menembus hukum, yang mengatur semua termasuk alam semesta, dari butiran debu yang sangat kecil hingga galaksi-galaksi langit yang hebat, adalah hukum Allah, Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta. Sebagaimana semua makhluk mentaati hukum Allah, maka, seluruh alam semesta benar-benar mengikuti agama Islam—sehingga Islam itu menunjukkan ketiadaan selain tunduk dan patuh kepada Allah, Tuhan semesta alam. Matahari, bulan, bumi dan semua bintang-bintang di langit adalah ‘Muslim’. Demikian pula udara, air, panas, batu, tumbuhan dan hewan. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah ‘Muslim’ selama ia mentaati Tuhan dengan tunduk kepada hukumnya. Bahkan seorang manusia yang menolak untuk tunduk kepada Tuhan, atau menjalankan ibadahnya kepada seseorang selain Allah, memiliki kebutuhan untuk menjadi ‘Muslim’ sejauh eksistensinya diperhatikan.

Selama hidupnya, dari embryonic hingga tubuh berubah menjadi debu setelah mati, setiap jaringan ototnya dan setiap anggota badannya mengikuti takdir yang ditetapkan oleh hukum Tuhan. Setiap lidahnya, dengan sejumlah kebodohannya menyokong penyangkalan kepada Tuhan atau menganut banyak dewa, secara alamiah adalah ‘Muslim’. Kepalanya dengan tanpa alasan tunduk kepada selain Allah dilahirkan dalam keadaan ‘Muslim’. Hatinya, karena kekurangan ilmu pengetahuan yang benar, mengharap cinta dan penghormatan kepada sesama, secara intuisi adalah ‘Muslim’. Ini semua patuh kepada Hukum Tuhan, dan fungsi serta pergerakannya diatur oleh perintah hukum itu sendiri.

Mari kita kaji situasi ini dari sudut pandang yang berbeda. Manusia itu memiliki dua tipe yang berbeda. Satu tipe di mana dia menemukan dirinya secara totalitas diatur oleh Hukum Tuhan. Seperti makhluk lainnya, dia benar-benar menemukan pedoman hukum alam fisik dan dituntut untuk mengikutinya. Tetapi ada juga tipe lain berkenaan aktivitasnya. Dia telah dianugerahi akal dan pikiran. Dia memiliki kekuatan untuk berpikir dan membuat keputusan, untuk memilih dan menolak, untuk setuju atau tidak setuju. Dia bebas mengadposi apapun takdir hidup yang dia pilih. Dia menganut beberapa keyakinan, dan hidup dengan beberapa ideologi yang dia suka. Dia mungkin mempersiapkan kode etik sendiri atau menerima dari yang telah diformulasikan oleh orang lain. Tidak seperti makhluk lainnya, dia telah diberikan kebebasan berpikir, memilih dan bertindak. Pendek kata, manusia telah dianugerahi keinginan yang bebas.

Kedua aspek ini saling berdampingan dalam kehidupan manusia. Pertama dia, seperti semua makhluk lainnya, lahir Muslim, selalu mentaati perintah Tuhan, dan diikat untuk mempertahankannya. Sejauh aspek kedua diperhatikan, dia bebas untuk menjadi atau tidak menjadi Muslim. Itu adalah jalan orang menggunakan kebebasannya yang membagi manusia ke dalam dua kelompok: orang-orang beriman dan tidak beriman. Individu yang memilih untuk mengakui Penciptanya, menerimanya sebagai Pemiliknya, secara jujur dan teliti tunduk kepada hukum-hukum-Nya dan mengikuti undang-undang-Nya. Dia telah memperoleh kesempurnaan dalam keislamannya dengan sadar memutuskan untuk mentaati Tuhan dalam domain di mana dia dianugerahi kebebasan memilih. Dia adalah Muslim yang sempurna: ketundukan seluruh jiwa dan raganya hanya kepada kehendak Allah adalah Islam dan tidak ada yang lain kecuali Islam.

Sekarang dia benar-benar tunduk kepada-Nya Yang telah dia tidak taati. Dia menghamba sepenuhnya kepada Yang Maha Pemilik yang telah dia sembah tanpa keikhlasan. Pengetahuannya sekarang jelas agar dia mengakui Yang Maha memberkahinya kemampuan untuk belajar dan mengenal. Sekarang alasan dan keputusannya berada dalam keadaan stabil—dia sudah benar memutuskan untuk mentaati Tuhan Yang telah memberikannya kemampuan berpikir dan mempertimbangkan. Lidahnya juga jujur mengekspresikan keyakinannya kepada Tuhan Yang telah membeiikan kemampuan berbicara. Semua eksitensinya merupakan perwujudan dari kebenaran, dalam semua aspek kehidupan, dia mau tidak mau harus mentaati hukum-hukum Tuhan Yang Maha Esa—Tuhan semesta alam. Dia berada dalam kedamaian dengan alam selama dia menyembah-Nya Yang seluruh alam sembah. Orang seperti ini adalah khalifah Tuhan di muka bumi. Seluruh dunia untuknya dan dia untuk Allah.

Nantikan kelanjutannya……


[1] Arti harfiah lain dari kata Islam adalah ‘damai’ dan ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mencapai kedamaian badan dan pikiran yang sebenarnya hanya melalui ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Seperti hidup patuh membawa kedamaian hati dan menentukan kedamaian yang sebenarnya di masyarakat luas–editor

***

The title in English: Towards Understanding Islam

Source: Abul A’la Mawdudi. 1990. Towards Understanding Islam. Saudi Arabia: The Islamic Foundation, Muslim World League—Riyadh Office

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s