SEMBILAN PENYAKIT GURU: Penyebab Kemunduran Prestasi Siswa

Oleh: Komarudin Tasdik

Pertama, berlebihan: pemberian tugas terlalu banyak, tapi siswa kurang memahaminya

Kedua, egois: Merasa benar sendiri: siswa bernilai jelek, siswa tidak mampu, siswa malas, siswa bolos dianggap ketidakberhasilan siswa dan hanya siswa yang harus bertanggung jawab. Padahal, boleh jadi guru itulah penyebabnya, misal: tidak bisa menyampaikan, tidak menguasai materi, tidak menarik.

Contoh kasus: ketika seorang guru ditemui siswa untuk minta tugas karena pernah bolos, guru tersebut kurang proaktif sehingga ia menjawabnya sambil terburu-buru, terlihat merasa bahwa yang butuh adalah siswa. Padahal, guru itu butuh juga alasan siswa yang sebenarnya. Alasan itu tidak hanya tentang sakit, atau ada keperluan penting, tapi merasa malas itu juga kontribusi untuk peningkatan mutu guru yang bersangkutan

Ketiga, asing: guru cenderung asing bagi siswa, karena tidak memposisikan tanggung jawabnya sebagai orang tua, dan tidak mau berkomunikasi dengan posisi yang diinginkan siswa seperti berperan sebagai teman, parner, atau orang tua untuk menerima curhat, kritik dan sarannya

Keempat, sombong: Merasa lebih pintar dari siswa

Sesuai cara menghapal cepat yang diajarkan dalam metode quantum learning, maka saya memberikan akronim untuk nomor 1 sampai 4 dalam kata “BEAS” (Berlebihan, Egois, Asing, Sombong).

Kelima, Tidak Jujur: Tidak berani mengatakan: saya belum paham

Keenam, Tidak komunikatif: Tidak mau mengukur dengan jujur terhadap kemampuan siswa, ia cenderung mengejar berapa banyak materi yang telah disampaikan, bukan berapa banyak materi yang telah dipahami siswa. Padahal, sekolah itu hanyalah stimulus, untuk kajian lebih mendalam siswa sendirilah yang harus belajar di luar kelas, baik secara otodidak, belajar kelompok, kursus, atau less private. Kasus ini banyak dipengaruhi oleh target-target yang ada dalam silabus

Ketujuh, Tidak supportif: Tidak berani mengakui keunggulan anak. Seharusnya, berilah apresiasi dan reward semampunya

Kedelapan, Tidak cermat: memberi nilai jelek, tidak melihat fasilitas yang ada sementara dalam SMPTN dipandang sama

Kesembilan, Tidak Terbuka: tidak membangun komunikasi yang baik di antara siswa dan guru misalnya via sms, telpon, e-mail, atau komunikasi langsung

Untuk nomor 5 sampai 9, penulis berikan akronim dalam bentuk kalimat “Tidak: JK Support CT” (dibaca jeka support siti). Akronim “Tidak: JK Support CT” berarti Tidak Jujur, Tidak Komunikatif, Tidak Supportif, Tidak Cermat, Tidak Terbuka.

Dengan pembahasan akronim “BEAS” dan “Tidak: JK Support CT” ini diharapkan para guru segera pulih dan bangkit untuk memperbaiki dirinya sendiri. Guru itu dituntut keras untuk menjalankan syariat Islam yang mengajarkan: “Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat”. Dengan belajar terus maka sifat bijak atau dalam bahasa Arabnya “hikmah” akan semakin terpupuk, sehingga akan mengantarkan keberhasilan pendidikan sesuai amanah pembukaan UUD 1945: “Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa”. Makna kata bangsa mencakup siswa dan gurunya sendiri. Dengan belajar yang kontinyu, akan mencerdaskan kehidupan siswa dan guru, sehingga akan tercapai keberhasilan pembelajaran yang seimbang, baik secara materi keilmuan maupun secara kematangan mentalnya masing-masing (guru dan siswa).

Nantikan edisi lengkapnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s