Daily Archives: February 15, 2011


Profile Singkat Penulis


Komarudin Tasdik lahir di Garut tahun 1982. Tamat dari SDN Sukarasa dan MI Nurul Hidayah tahun 1996, MTsN Cisewu tahun 1999 dan MAN Cisewu tahun 2002. Kemudian melanjutkan kuliah Jurusan Manajemen Informatika Program Diploma Tiga di AMIK    al-Ma’soem dengan gelar Ahli Madya (A.Md.) lulus tahun 2005. Pada tahun 2008 melanjutkan pendidikannya pada Jurusan Sistem Informasi Program Strata Satu hingga lulus dari STMIK JABAR tahun 2009 dengan gelar Sarjana Komputer (S.Kom.).

Kegiatan mengajarnya dimulai menjadi Pengajar Mata Pelajaran Komputer di: SMP Plus Ganesha tahun 2005 s.d. 2007, MTs al-Falah tahun 2005 s.d. 2006, MA al-Falah tahun 2006 s.d. sekarang, SMK Plus Pratama Adi tahun 2009 s.d. sekarang.

Begitu juga di beberapa perguruan tinggi, ia mengampu Mata Kuliah Bidang Komputer di: STAI al-Jawami tahun 2006, STAI al-Falah tahun 2007 s.d. sekarang, STT Pratama Adi dan Sydney College tahun 2009 s.d. sekarang, LP3I Tasikmalaya tahun 2009 s.d. sekarang, PUSKOM AMIK HASS Garut sekarang.

Di sela-sela kesibukan sebagai pengajar, penulis juga menuangkan coretannya di http://komarudintasdik.tripod.com (Penulis sampaikan terima kasih kepada http://www.tripod.com).

PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN


PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN

 

Coretan tinta ini ditulis berdasarkan hasil renungan Penulis selama berkiprah di dunia pendidikan. Ditulis dengan harapan dapat menjadi bahan renungan, baik bagi para generasi yang baru ingin memulai berkiprah di dunia pendidikan, maupun yang sudah berpengalaman tapi jarang memikirkannya.

1.      Haruskah guru menjadi profesional?

Harus. Tapi, mari bayangkan. Apabila guru (honorer) hanya mendapat honor Rp 7.000 atau 10.000 atau 15.000 per jam pelajaran dan dibayar hanya dalam jangka waktu satu minggu untuk satu bulan, maka perhitungannya sebagai berikut:

  • Misalnya seorang guru honor Rp 10.000 per jam pelajaran
  • Jam mengajar dalam satu hari: 6 jam
  • Seandainya mengajar full dalam seminggu, maka 6 jam x 6 hari = 36 jam
  • Maka total honor Rp 10.000 x 36 jam = Rp 360.000
  • Jadi, guru itu hanya mendapat Rp 360.000 dalam satu bulan, karena tidak dikali 4 minggu (inilah realita pendidikan).

Silahkan hitung-hitung dengan biaya kehidupan sehari-hari plus kebutuhan buku referensi pelengkap, apalagi harus melanjutkan perkuliahan.

Sebagai informasi:

  • Kuliah Strata Satu kira-kira Rp 300.000 per bulan
  • Andaikan makan cukup Rp 10.000 per hari
  • Buku Rp 25.000 per buku
  • Harus diingat juga, belum tentu guru honorer itu memiliki jadwal full dalam seminggu.

Jadi, di manakah kesempatan mengembangkan diri untuk menjadi guru honorer yang profesional? Mungkinkah? Pastikah? Atau Mustahil? Silahkan saja hitung sendiri pendapatan dan pengeluaran yang terinci di atas.

Harus diingat pula, problematika seperti di atas tidak hanya terjadi di sekolah menengah, tapi mungkin juga terjadi di perguruan tinggi yang notabene dosen harus memiliki referensi yang sangat banyak, sementara pendapatannya sangat minim. Maka, jangan aneh kalau banyak dosen yang tidak dapat menjalin komunikasi dengan baik dengan mahasiswanya. Jangankan menjawab pertanyaan mahasiswa dengan tepat, menyampaikan pokok bahasan saja tidak jelas (kalau tidak pantas dikatakan tidak mampu). Maaf tidak semua dosen dan guru dirundung masalah ini, tapi mungkin agak banyak jumlahnya (perlu penelitian dulu nih)

2.      Haruskah seorang guru meminta atau menagih honor kepada bendahara sekolah?

Saya pikir ini tidak perlu terjadi. Selain honornya tidak terlalu besar, dapat terlihat ketika seorang guru mengajar itu menandakan harus sinkronnya antara kewajiban dan hak. Kewaijaban guru adalah mendidik dan hak guru adalah mendapat honor (salah satunya). Maka segerakanlah honor guru itu, sesuai waktunya (tidak perlu ditagih). Kalaulah guru harus menagih honor tiap bulan, apa bedanya guru dan tukang tagih dari dunia perkreditan. Sementara tugasnya jelas-jelas sangat berbeda. MENURUT KABAR BURUNG, HAL INI MASIH TERJADI DI BEBERAPA INSTITUSI PENDIDIKAN.

3.      Karakteristik pengajar yang menggelikan:

  • Kurang menguasai materi; jangankan bisa dipahami, suaranya saja tidak terdengar
  • Hanya memperhatikan kehadiran (ini biasanya dipengaruhi oleh sistem pendidikan di suatu lembaga, khususnya di perguruan tinggi).

Menurut cerita teori pendidikan bahwa guru itu hanya sebagai mediator, tapi kenapa tidak bisa memediasi siswa/mahasiswa. Kurang elok, kalau ada mahasiswa tidak hadir divonis nilai jelek, sementara mahasiswa yang hadir tapi hanya pelengkap ruangan dikatakan bagus dan disiplin. Tidak adakah alternatif bagi mahasiswa yang tidak hadir untuk diberikan kesempatan berkarya seperti membuat makalah tentang materi mata kuliah yang bersangkutan, kemudian mahasiswa disuruh membahasnya di depan dosen. Bukankah dengan langkah berkarya ini akan memungkinkan mahasiswa Indonesia terbiasa untuk menulis, mengingat masih sangat minimnya manusia Indonesia yang suka menulis, baik siswa, mahasiswa, guru, bahkan dosen sekalipun.

Bayangkan saja, apabila ada dosen yang sangat terlambat memberi pokok bahasan (silabus/SAP) plus referesi terkait mata kuliahnnya kepada mahasiswa, maka ini bukan hanya akan membuat mahasiswa yang hanya mampu menunggu mencatat materi dari dosen (pendengar setia) tapi menandakan bahwa dosen itu tidak berani tersaingi mahasiswanya.

Dosen Penulis pernah mengatakan bahwa: perbedaan dosen dan mahasiswa itu hanya beda tingkat kecepatan memperoleh informasi, dosen malam hari sebelum perkuliahan berlangsung membaca terlebih dahulu, sementara mahasiswa tidak. Maka, andaikan perkataan dosen Penulis itu dibalik, maka sangat mungkin mahasiswa akan mengalahkan dosennya, baik itu dosen baru, guru besar, profesor atau apapun gelarnya, mengingat dunia maya (internet) seperti Mr. Google telah siap menyajikan bahan kuliah yang seabreg jumlahnya.

  • Tidak ada komunikasi di luar perkuliahan

Penulis sempat mendengar pengajar berkata: bukan saya yang butuh tapi anda yang dibutuh, maka anda-lah yang harus aktif dalam perkuliahan (ungkapan ini biasanya ditujukan kepada mahasiswa atau siswa).

Ungkapan di atas membuat miris Penulis, karena ketika mahasiswa tidak aktif, maka si dosen tak memperdulikannya. Padahal, mahasiswa akan aktif kalau ada stimulus dari dosennnya (salah satu faktor). Maka, kalau mahasiswa tidak aktif, berarti boleh jadi dosennya kurang memberikan stimulus (kalau tidak boleh dikatakan gagal).

Hal biasa kalau ada mahasiswa menelopon dosennya, tapi kenapa dosen merasa enggan untuk menelopn mahasiswanya. Sungguh mengherankan, bukankah yang menginginkan seorang anak sukses itu sangat dimiliki oleh orang tuanya. Mengapa dosen tidak demikian kepada mahasiswanya? Mari merenung bersama-sama!

Kasus lain, siswa diminta agar mendapat nilai yang bagus, disuruh belajar, disuruh membaca, disuruh menghapal, sementara pengajar tidak memberikan cara bagaimana belajar, membaca, dan menghapal yang cepat dan tepat. Jangankah memberi cara jitu belajar, bahkan pengajar itu tidak  ada usaha keras untuk bercita-cita agar peserta didiknya mendapat nilai terbaik (misalnya: ikut mendoakan anak didik, ikut gelisah, ikut tegang, perasaan ini jarang terjadi dalam ulangan harian, karena pengajar sudah merasa cukup dengan materi yang telah disampaikannya).

Maaf, di sini mengambil kata pengajar bukan pendidik, dengan tujuan menghormati makna kata pendidik yang nilainya sangat luhur.

4.      Profesionalisme guru dapat terlihat salah satunya ketika siswa-siswi menghadapi UN (Ujian Nasional)

Banyak siswa yang sangat tegang menghadapi UN. Tegang ini bermakna tidak siap (analisis Penulis). Kalau siswa tidak siap menghadapi UN, berarti faktor dominan yang mempengaruhinya adalah karena materi yang disampaikan guru tidak dipahami secara komprehensif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru itu tidak mampu menjalankan perannya secara profesional. Salahkah guru? Ya, salah. Apakah kesalahan ini hanya ditanggung guru saja? TIDAK. Semua stakeholders, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan dan semua pihak yang terkait dengan pendidikan harus ikut menanggung atau mengakui kelemahannya masing-masing, yakni kurang memperdulikan pengembangan kemampuan seorang guru, misalnya: tidak memberikan bantuan buku, kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bentuk kesempatan lainnya yang dapat menggali mengembangkan potensi  guru tersebut. Ini terlihat dengan biaya pendidikan yang selangit dibanding pendapatan guru.

5.      Haruskah guru/dosen menutupi ketidakmampuannya kepada peserta didik?

Ini terlihat ketika mahasiswa bertanya tentang yang belum diketahui dosen. Biasanya dosen itu berusaha untuk menjawab pertanyaan itu, walaupun tidak tahu kebenarannya. Kenapa sih tidak berani berkata: MAAF SAYA BELUM TAHU? Toh jawaban ini tidak akan merusak reputasi seorang dosen, selama ia mau belajar dan belajar lagi.

Akan tetapi, kabar gembira ternyata baru-baru ini para profesor sudah banyak yang mengakui bahwa mereka TIDAK TAHU. Kabar ini didapatkan dari seseorang mahasiswa pascasarjana (S2) program beasiswa DEPAG. Semoga benar adanya.

6.      Damaikah antara Yayasan dan guru? Pengertiankah pemerintah terhadap guru? Jawablah pertanyaan ini dengan mata hati agar kita mendapat solusi. Silahkan renungkan beberapa peristiwa yang masih hangat saat ini seperti sertifikasi yang mengundang orang melirik dan tertarik untuk menjadi guru.

Demikianlah untaian kata dari sederet tombol-tombol keyboard. Kalaulah ini dianggap kurang layak dikatakan tulisan, biar katakan saja sebagai curhat Penulis yang selama ini masih merasa resah dan gelisah melihat potret pendidikan di bumi tercinta ini, Indonesia. Semoga apa yang dilihat penulis itu salah adanya, tapi kalau-lah benar, bahkan lebih semerawut dari itu, semoga dunia pendidikan kita segera mendapatkan solusinya. Salam sukses bagi para pendidik semua!

****

MATERI TAMBAHAN

 

Contoh SAP (Satuan Acara Pengajaran)

Pertemuan Instruksi Umum Topik Sub Topik Penugasan Metode Evaluasi

Sumber: SAP LP3I Tasikmalaya

Contoh SK untuk seorang guru atau dosen terlampir:

SK ini dilampirkan agar menjadi bahan persiapan bagi para penyelenggara pendidikan untuk segera memberikannya kepada guru, karena pada saat tertentu SK tersebut akan dibutuhkan.

Halaman selanjutnya memuat lampiran tentang daftar beberapa contoh format SK tersebut, yaitu:

  • SK Yayasan
  • SK Kepala Sekolah
  • Surat Tugas Mengajar
  • Surat Perjanjian Kerja

 

Download (doc)

Motto


Motto:

 

انّ مع العسر يسرا

“Verily, with every difficulty there is relief.”

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(Q.S. 94:6)

 

Yakinilah bahwa : “Allah = 1, Shengwu = 0”.

Lakukanlah “Dzikir, pikir jeung ikhtiar.”

Optimislah, karena “Hossuru + Tameru + Shiru= Dekiru.”

 

Ingat Keajaiban 4 huruf:

D-U-I-T     = 4 huruf => OK

I-L-M-U    = 4 huruf => OK

الله = 4 huruf => OK

Waspadalah dengan 4 huruf di atas!

Jika berhasil mengenalnya, maka berbahagialah manusia. Jika enggan mengenalnya, maka sengsaralah manusia sebenar-benarnya sengsara.***

 

Dari Penulis


DARI PENULIS

 

Alhamdullillah Penulis telah selesai menyusun kompilasi materi mata kuliah akta IV ini dengan judul: BUNGA RAMPAI DARI UNIVERSITAS BALE BANDUNG. Walaupun dalam waktu yang tersendat-sendat karena aktivitas sehari-hari Penulis, semoga tidak mengurangi esensi materi dari setiap mata kuliah.

Beberapa tujuan penyusunan kompilasi ini adalah sebagai kenang-kenangan buat kampusku tercinta Universitas Bale Bandung (UNIBBA) dan sebagai rasa terima kasih atas pengertiannya yang telah diberikan oleh civitas akademika UNIBBA yang telah bersedia menerima konsultasi dan curhatan Penulis dalam menjalankan aktivitas di dunia pendidikan, sekaligus memberikan sikap mafhum atas segala kendala perkuliahan penulis karena sejumlah aktivitas mengajar Penulis yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebagai tugas utama seorang pengajar.

Penyusunan kompilasi materi ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Oleh karena itu, Penulis perkenankan menyampaikan banyak terima kasih kepada:

1.      Ibunda tercinta, Mamah Karnoya yang telah memberikan kasih sayang tidak terhingga dan dengan sabar memotivasi penulis dalam menuntut ilmu

2.      Ayahanda tercinta, Bapak Wa’id (almarhum) yang telah memberikan inspirasi melalui karya besarnya untuk kepentingan umat

3.      Ibunda tercinta, Mamah Isar Wartini

4.      Ayahanda tercinta, Bapak Tatang Harnadi Amir beserta keluarga

5.      Ir. H. Ariffin Z. Budiman, selaku Rektor UNIBBA

6.      Neneng Nenih, Dra. M.P., selaku Dekan FKIP UNIBBA

7.      Hj. Kimtafsirah, Dra., M.A., selaku Dosen UNIBBA yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan Akta IV dengan sebaik-baiknya

8.      Semua staf dan dosen UNIBBA

9.      Semua para penulis yang telah memberikan warisan super spesial yakni torehan tinta yang sangat tinggi nilainya sehingga dijadikan referensi dalam penyusunan kompilasi ini

10.  Kakakku tercinta: Teh Wangsri Nurjanah dan Aa Rohman, Aa Kurnia dan Teh Lilis, Teh Dewi Rasmilawati, Teh Darmayanti, Teh Kurniasih dan Aa Rohmat, Aa Sulisman dan Teh Lastri. Juga adikku tercinta: Jang Fatahillah

11.  Ketua Yayasan asy-Syahidiyyah beserta jajarannya

12.  Ketua STAI al-Falah beserta para staf dan dosen rekan-rekan kerja Penulis

13.  Kepala MA al-Falah beserta para staf dan guru rekan-rekan kerja Penulis

14.  Ketua LP3I, terutama Branch Manager LP3I Tasikmalaya beserta para staf dan dosen rekan-rekan kerja Penulis

15.  Ketua Yayasan Pratama Adi beserta jajarannya

16.  Ketua STT Pratama Adi dan Sydney College beserta para staf dan dosen rekan-rekan kerja Penulis

17.  Kepala Sekolah SMK Plus Pratama Adi beserta para staf dan guru rekan-rekan kerja Penulis

18.  Semua anak-anakku tercinta siswa-siswi MA al-Falah dan SMK Plus Pratama Adi

19.  Semua rekan-rekanku tercinta mahasiswa-mahasiswi STAI al-Falah, LP3I, STT Pratama Adi dan Sydney College

20.  Semua mahasiswa program Akta IV UNIBBA

21.  Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

 

Semoga semua kebaikan mendapat pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. Amin!

Demikian salam hangat dari penulis. Kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya dapat dikirimkan ke e-mail: komarudintasdik28@yahoo.com.

Terima kasih!

 

Bandung, April 2010

Penulis

DAFTAR ISI

 

 

Dari Penulis………………………………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………….. iv

 

Pengantar Pendidikan………………………………………………………………………………….. 1

Perkembangan Peserta Didik……………………………………………………………………….. 11

Pengelolaan Pendidikan……………………………………………………………………………….. 19

Strategi Belajar Mengajar…………………………………………………………………………….. 28

Perencanaan Pembelajaran…………………………………………………………………………… 36

Pendidikan Keprofesian………………………………………………………………………………. 50

Kapitaselekta Pembelajaran…………………………………………………………………………. 61

Evaluasi Pendidikan……………………………………………………………………………………. 69

Problematika Dunia Pendidikan ……………………………………………………………………. 81

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………… 86

Daftar Pustaka


DAFTAR PUSTAKA

1.      Arifin, Muzayyin.  2008. Kapitaselekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

2.      Daryanto. 2005. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

3.      Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

4.      Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

5.      Sunarto dan Hartono, B. Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta

6.      Sutikno, M. Sobry. 2009. Pengelolaan pendidikan: Tinjauan Umum dan Konsep Islami. Bandung: Prospect

7.      Tirtarahardja, Umar dan Sulo, S. L. La. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

8.      Uno, Hamzah B. 2009. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

Bunga Rampai dari UNIBBA


Evaluasi Pendidikan


EVALUASI PENDIDIKAN

(Rangkuman dari buku Evaluasi Pendidikan karya Drs. H. Daryanto)

Tugas Individual

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah: Evaluasi Pendidikan

Oleh:

Komarudin Tasdik

AKTA IV / GELOMBANG I

BIDANG KEPENDIDIKAN DAN PROFESI KEGURUAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)

UNIVERSITAS BALE BANDUNG (UNIBBA)

2010

Pokok Bahasan Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan:

1.      Pengertian, Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan

2.      Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi

3.      Klasifikasi Tujuan Instruksional

4.      Berbagai Teknik Evaluasi

5.      Pengukuran ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam Pendidikan

6.      Prosedur Pelaksanaan Evaluasi

7.      Analisis Butir-Butir Instrumen Evaluasi

8.      Interpretasi Nilai Evaluasi


Rangkuman:

Pengertian, Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan

Evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan.

Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar-mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Continue reading

Kapita Selekta Pembelajaran


KAPITASELEKTA PEMBELAJARAN

(Rangkuman dari buku Kapita Selekta Pendidikan Islam

karya Muzayyin Arifin, M.Ed.)

Tugas Individual

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah: Kapita Selekta Pembelajaran

Oleh:

Komarudin Tasdik

AKTA IV / GELOMBANG I

BIDANG KEPENDIDIKAN DAN PROFESI KEGURUAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)

UNIVERSITAS BALE BANDUNG (UNIBBA)

2010

Pokok Bahasan Mata Kuliah Kapitaselekta Pembelajaran:

1.      Problema Konseptual Teoretik Pendidikan Islam

2.      Problema Pendidikan Islam dalam Dinamika Masyarakat

3.      Model-Model Penelitian dan Pendidikan

4.      Problema Manajemen dan Kelembagaan Pendidikan Islam

5.      Pendidikan Islam sebagai Subsistem Pendidikan Nasional


Rangkuman:

Problema Konseptual Teoretik Pendidikan Islam

Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada kedua fenomena perkembangan, yaitu:

1)      Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.

2)      Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtimaiah, di mana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Pendidikan Agama Islam di negeri kita merupakan bagian dari pendidikan Islam. Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah membina dan mendasari kehidupan anak-didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam. Sehingga mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai pengetahuan agama.

Pendidikan yang dijadikan tumpuan harapan manusia harus mampu memproyeksikan keadaan masa depan ke dalam ketiga kategori, yaitu:

a.       Masa depan sosio

b.      Masa depan tekno

c.       Masa depan bio

Ada tiga komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan Islam yang pada  gilirannya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi. Tiga komponen dasar itu adalah sebagai berikut:

1.        Tujuan pendidikan Islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh umat Islam sehingga bersifat universal.

2.        Metode pendidikan Islam yang kita ciptakan harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam.

3.        Irama gerak yang harmonis antara metode dan tujuan pendidikan dalam proses akan mengalami vakum bila tanpa kehadiran nilai atau ide.

Dengan memperhatikan potensi psikologis dan pedagogis manusia anugerah Allah, model pendidikan Islam seharusnya berorientasi kepada pandangan falsafah sebagai berikut:

1.        Filosofis: memandang manusia didik adalah hamba Tuhan yang diberi kemampuan fitriah, dinamis dan sosial-religius serta yang psiko-fisik. Cenderung kepada penyerahan diri secara total kepada Maha Penciptanya.

2.        Etimologis: potensi berilmu pengetahuan yang berpijak pada iman dan berilmu pengetahuan untuk menegakkan iman yang bertauhid, yang basyariyah-dharuriyah, menjadi shibghah manusia muslim sejati berderajat mulia.

3.        Pedagogis: manusia adalah makhluk belajar sejak dari ayunan sampai liang lahat yang proses perkembangannya didasari nilai-nilai Islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan dan tuntutan perubahan sosial, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi kekhalifahan di muka bumi.

Secara kurikuler model-model tersebut didesain menjadi:

1.        Content: lebih difokuskan pada permasalahan sosiokultural masa kini untuk diproyeksikan ke masa depan, dengan kemampuan anak didik mengungkapkan tujuan dan nilai-nilainya yang inheren dengan tuntutan Tuhan.

2.        Pendidik: bertanggung jawab terhadap penciptaan situasi komunitas yang dialogis independed dan terpercaya.

3.        Anak didik: dalam proses belajar mengajar melakukan hubungan dialogis dengan yang lain (guru, teman-teman sebaya dan orang dewasa, serta alam sekitar).

Beberapa ahli perencanaan kependidikan masa depan telah mengidentifikasi krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, dapat pula dijadikan wawasan perubahan sistem pendidikan Islam, yang mencakup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut: (1) krisis nilai-nilai, (2) krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik, (3) adanya kesenjangan kredibilitas, (4) beban institusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya, (5) kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang peranannya di masa depan bangsa, (6) kurang sensitif terhadap kelangsungan masa depan, (7) kurangnya relevansi program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan pembangunan, (8) adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naïf kekuatan teknologi canggih, (9) makin membesarnya kesenjangan di antara kaya dan miskin, (10) ledakan pertumbuhan penduduk, (11) makin bergesernya sikap manusia ke arah pragmatisme yang pada gilirannya membawa ke arah materialisme dan individualisme, (12) Makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya.

Problema Pendidikan Islam dalam Dinamika Masyarakat

Strategi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi berkat kemajuan iptek itu mencakup ruang lingkup sebagai berikut:

1.        Motivasi kreativitas anak didik ke arah pengembangan iptek itu sendiri, di mana nilai-nilai islami menjadi sumber acuannya.

2.        Mendidik keterampilan memanfaatkan produk iptek bagi kesejahteraan hidup umat manusi pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.

3.        Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan iptek, dan hubungan yang akrab dengan para ilmuwan yang memegang otoritas iptek dalam bidang masing-masing.

4.        Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.

Metode yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas hidup umat Islam khususnya di Indonesia, adalah metode-metode yang digali dalam sumber-sumber pokok ajaran Islam sendiri, serta metode-metode yang tidak menghilangkan faktor keimanan dan nilai moralitas-islami. Metode tersebut seperti yang berdasarkan pendekatan ilmu dan teknologi yang dikenal dengan teknologi instruksional. Teknologi ini pada prinsipnya adalah menyederhanakan proses belajar mengajar sehingga efektif dan efisien, melalui berbagai media kependidikan seperti komputer, video comapact disk (VCD). Metode lain adalah serangkaian kegiatan pendidikan melalui pendekatan keterampilan proses.

Kemajuan iptek dalam bidang industrial dan mekanikal, memberikan dampak kehidupan yang menghilangkan nilai ekonomis tenaga manusia alam perusahaan-perusahaan raksasa, diganti dengan robot-robot yang lebih murah, sementara penghargaan terhadap nilai-nilai moral dan etik dalam pola komunikasi interpersonal selaku umat manusia yang senasib semakin digantikan dengan nilai industri-komersial yang materialistik dapat menguntungkan diri pribadinya. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi sosial, kepedulian moral dan sosial antara kepentingan kesejahteraan sikap mental dan sosial antara kepentingan kesejahteraan hidup pribadi dengan kesejahteraan sosialnya.

Akibatnya muncul berbagai ragam gejala demoralisasi, dekadensi, egoisme, dan individualisme serta apatisme dan sebagainya yang bersumber pada frustasi yang semakin membengkak juga stress-sosial (ketegangan batin masyarakat) semakin menumpuk dalam lapisan jiwa bawah sadar yang sewaktu-waktu dapat meletup dan meledak ke permukaan kehidupan masyarakat. Apalagi jika kekuatan atau daya pengendali mental-psikologis mereka tak dapat bekerja dengan baik dalam tiap kelompok masyarakat itu.

Model-Model Penelitian dalam Pendidikan

Kegiatan riset dalam pendidikan dapat dilakukan dalam berbagai macam bentuk:

1.        Riset ditinjau dari segi tujuan pelaksanaannya

1)      Penelitian Dasar, yaitu suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan untuk mengembangkan suatu bentuk ilmu pengetahuan teoritis

2)      Penelitian Terapan, yaitu kegiatan penyelidikan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah yang perlu diterapkan dengan segera.

2.        Riset ditinjau cara penganalisisan data-data yang diperoleh

a.     Penelitian analitis, yaitu suatu kegiatan penyelidikan yang bertujuan untuk mencari hubungan-hubungan dalam suatu sistem deduktif.

b.    Penelitian deskriptif, yaitu kegiatan untuk menunjukkan kenyataan-kenyataan atau kondisi-kondisi yang ada tanpa terpengaruh oleh anasir subjektif dari si penyelidik.

c.     Penelitian eskperimental, yaitu untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dari suatu variabel penelitian.

3.        Riset ditinjau dari sudut sampai di manakah riset memenuhi baik internal maupun eksternal validity-nya

a.     Penelitian Ex Post Facto, yaitu penelitian yang dipandang tidak memiliki external validity karena sampling yang diambil tidak menjamin berlakunya (sahnya) generalisasi (hukum-hukum umum) dari hasil penemuannya.

b.    Investigasi, studi, survei, dan eksperimen, keempat bentuk riset ini mempunyai perbedaan baik internal maupun external validity.

4.        Kemungkinan validitas internal merusak validitas eksternal.

Ada beberapa problema menyangkut kondisi dan kompensasi tugas mengajar guru:

a.       Sedikitnya waktu untuk istirahat dan untuk persiapan pada waktu dinas di sekolah.

b.      Ukuran kelas yang terlalu besar.

c.       Kurangnya bantuan administratif.

d.      Gaji yang kurang memadai.

e.       Kurangnya bantuan kesejahteraan.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan usaha kepala sekolah yang mendorong daya cipta staf dinyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada dua faktor yang perlu diperhatikan, yaitu:

a.         Ketelitian tanggapan/persepsi kepala sekolah tentang nilai-nilai dan keterampilan stafnya.

b.        Pengetahuan staf tentang prioritas perbaikan pengajaran di kelas sebagaimana yang ditetapkan oleh kepala sekolah harus benar-benar dimiliki.

Problema Manajemen dan Kelembagaan Pendidikan Islam

Perangkat input instrumental yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan menjadi sumber karawanan karena:

1)      Guru kurang kompeten untuk menjadi tenaga profesional pendidikan.

2)      Penyalahgunaan manajemen pendidikan.

3)      Pendekatan metodologis guru masih terpaku kepada orientasi tradisionalistis.

4)      Kurangnya rasa solidaritas antara guru agama dengan guru-guru bidang studi umum.

5)      Kurangnya waktu persiapan guru mengajar.

6)      Kurikulum yang terlalu overloaded.

7)      Hubungan guru dengan murid hanya bersifat formal.

8)      Petugas supervisi tak berfungsi sesuai harapan.

9)      Problema kependidikan yang berkembang di lingkungan pendidikan.

10)  Belum mantapnya landasan perundangan yang menjadi dasar berpijaknya pengelolaan pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.

11)  Pemerataan memperoleh pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat masih perlu diintensifkan.

Bimbingan tidak hanya berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar, tetapi merupakan proses pengiring yang berkaitan dengan seluruh proses pendidikan dan proses belajar mengajar. Adapun fungsi bimbingan yaitu:

a)      Fungsi menyalurkan

b)      Fungsi mengadaptasikan

c)      Fungsi menyesuaikan

****

Link Terkait Pendidikan

Pengantar Pendidikan, Strategi Belajar Mengajar,

Perencanaan Pembelajaran, Pengelolaan Pendidikan,

Kapitaselekta Pendidikan,

Evaluasi Pendidikan,

Perkembangan Peserta Didik, Profesi Kependidikan

BLOG UTAMA

 

Download (doc)

Profesi Kependidikan


PROFESI KEPENDIDIKAN

(Dirangkum dari buku Profesi Kependidikan

karya Prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd.)

Tugas Mandiri

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah: Pendidikan Keprofesian

Oleh:

Komarudin Tasdik

AKTA IV / GELOMBANG I

BIDANG KEPENDIDIKAN DAN PROFESI KEGURUAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)

UNIVERSITAS BALE BANDUNG (UNIBBA)

2010

Pokok Bahasan Mata Kuliah Pendidikan Keprofesian:

1.      Pengantar Profesi Kependidikan

2.      Sepuluh Perubahan Pendidikan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia

3.      Profesionalisme Guru

4.      Merekonstruksi Masyarakat dan Kebudayaan Melalui Pengubahan Sistem Pengelolaan Pendidikan di Sekolah

5.      Jabatan Profesional dan Tantangan Guru dalam Pembelajaran

6.      Kompetensi Profesionalisme Guru

7.      Reformasi Pendidikan

8.      Peran Teknologi dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia

9.      Peran Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran di Era Teknologi Komunikasi dan Informasi

10.  Benang Kusut Pendidikan di Era Otonomi Pendidikan


Rangkuman:

Pengantar Profesi Kependidikan

Di dalam manajemen pendidikan kita harus melihat seberapa jauh kekuasaan pembuatan kebijaksanaan pendidikan itu tersentralisasi atau terdesentralisasi. Demikian juga kita harus mengamati seberapa jauh masyarakat terlibat dan ikut berperan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian, pengontrolan ini pendidikan tidak akan dikebiri prosesnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pelaksanaan pendidikan selama ini banyak diwarnai oleh pendekatan sarwa negara (state driven). Di mana yang akan datang pendidikan harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (putting customers first). Pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya, dan dari pengenalan ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya (need assessment). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulumnya, dan persyaratan pengajarnya.

Pendekatan sarwa negara mengakibatkan terjadinya sentralisasi sistem pendidikan. Untuk masa depan, visi pendidikan tidak lagi berorientasi pada sentralisasi kekuasaan, melainkan desentralisasi dan memberikan otonomi kepada satuan di bawah atau kepada daerah.

Visi pendidikan masa depan menuntut kita agar mampu hidup dalam suasana schooling and working in democratic state dan meletakkan information technology.

Mengingat masih banyaknya lulusan lembaga pendidikan formal, baik dari tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi, terkesan belum mampu mengembangkan kreativitas dalam kehidupan mereka. Lulusan sekolah menengah sukar untuk bekerja di sektor formal, karena belum memiliki keahlian khusus. Bagi sarjana, mereka yang dapat berperan secara aktif dalam bekerja di sektor formal terbilang hanya sedikit. Keahlian dan profesionalisasi yang melekat pada lembaga pendidikan tinggi terkesan hanyalah simbol belaka, lulusannya tidak profesional. Penguasaan bahasa Inggris, keterampilan komputer, dan pengalaman kerja merupakan persyaratan utama yang diminta perusahaan-perusahaan. Sementara ijazah yang diperoleh selama 20 atau 25 tahun dari lembaga pendidikan formal terabaikan.

Memperhatikan berbagai kondisi pendidikan dewasa ini, maka hal yang perlu dikedepankan, yaitu (1) bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan agar menjadi lembaga human investment? (2) hal-hal apakah yang perlu dilakukan agar otonomisasi penyelenggaraan pendidikan dapat dilakukan dengan baik?

Sepuluh Perubahan Pendidikan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia

Seberapa jauh pendidikan mampu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita dan jati diri bangsa dalam mengembangkan demokrasi dan memupuk persatuan bangsa? Hal ini dapat terlihat dengan menganalisis beberapa paradigme pendidikan, di antaranya: (1) pendidikan sebagai proses pembebasan.                 (2) pendidikan sebagai proses pencerdasan. (3) pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. (4) pendidikan menghasilkan tindak perdamaian. (5) pendidikan sebagai proses pemberdayaan potensi manusia (6) pendidikan anak berwawasan integratif. (7) pendidikan membangun watak persatuan. (8) pendidikan menghasilkan manusia demokratis. (9) pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. (10) Sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan.

Profesionalisme Guru

Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.

Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan.

Untuk seorang guru perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip mengajar agar ia dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut:

1.      Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.

2.      Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.

3.      Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.

4.      Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang diterimanya.

5.      Sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas.

6.      Guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaan dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

7.      Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.

8.      Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun di luar kelas.

9.      Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut.

Guru dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian, keahlian guru harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar saja.

Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dapat ditunjukkan oleh peserta didiknya. Untuk itu, apabila seseorang ingin menjadi guru yang profesional maka sudah seharusnya ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui jalur pendidikan berjenjang ataupun upgrading dan/atau pelatihan yang bersifat in service training dengan rekan-rekan sejawatnya.

Perubahan dalam cara mengajar guru dapat dilatihkan melalui peningkatan kemampuan mengajar sehingga kebiasaan lama yang kurang efektif dapat segera terdeteksi dan perlahan-lahan dihilangkan. Untuk itu, maka perlu adanya perubahan kebiasaan dalam cara mengajar guru yang diharapkan akan berpengaruh pada cara belajar siswa, di antaranya sebagai berikut:

1.      Memperkecil kebiasaan cara mengajar guru baru (calon guru) yang cepat merasa puas dalam mengajar apabila banyak menyajikan informasi (ceramah) dan terlalu mendominasi kegiatan belajar peserta didik.

2.      Guru hendaknya berperan sebagai pengarah, pembimbing, pemberi kemudahan dengan menyediakan berbagai fasilitas belajar, pemberi bantuan bagi peserta yang mendapat kesulitan belajar, dan pencipta kondisi yang merangsang dan menantang peserta untuk berpikir dan bekerja (melakukan).

3.      Mengubah dari sekadar metode ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan dengan tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau baru belajar kalau ada guru.

4.      Guru hendaknya mampu menyiapkan berbagai jenis sumber belajar sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri dan berkelompok, percaya diri, terbuka untuk saling memberi dan menerima pendapat orang lain, serta membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi.

Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 3 (tiga), yaitu kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Agar lebih jelas tentang kompetensi profesional, dijelaskan bahwa peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, harus memiliki kemampuan:

1)        Merencanakan sistem pembelajaran

  • Merumuskan tujuan
  • Memilih prioritas materi yang akan diajarkan
  • Memilih dan menggunakan metode
  • Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada
  • Memilih dan menggunakan media pembelajaran.

2)        Melaksanakan sistem pembelajaran

  • Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat
  • Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat

3)        Mengevaluasi sistem pembelajaran

  • Memilih dan menyusun jenis evaluasi
  • Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses
  • Mengadministrasikan hasil evaluasi.

4)        Mengembangkan sistem pembelajaran

  • Mengoptimalkan potensi peserta didik
  • Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri
  • Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut

Sedangkan kompetensi guru yang telah dibakukan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas (1999) sebagai berikut:

1)        Mengembangkan kepribadian

2)        Menguasai landasan kependidikan

3)        Menguasai bahan pelajaran

4)        Menyusun program pengajaran

5)        Melaksanakan program pengajaran

6)        Menilai hasil dalam PBM yang telah dilaksanakan

7)        Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran

8)        Menyelenggarakan program bimbingan

9)        Berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat

10)    Menyelenggarakan administrasi sekolah.

Merekonstruksi Masyarakat dan Kebudayaan Melalui Pengubahan Sistem Pengelolaan Pendidikan di Sekolah

Perananan sekolah dalam merekonstruksi masyarakat berarti sekolah merekonstruksi berbagai tata nilai yang telah ada dalam masyarakat, yang oleh Malindoski disebutkan sebagai upaya mengembangkan kebudayaan. Ada tujuh sistem nilai atau kebudayaan yang secara universal dikembangkan, yaitu            (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) sistem mata pencaharian hidup dan ekonomi, (4) organisasional, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian.

Jabatan Profesional dan Tantangan Guru dalam Pembelajaran

Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki guru harus bekerja secara profesional. Bekerja sebagai seorang yang profesional berarti bekerja dengan keahlian, dan keahlian hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus.

Kondisi dan asas untuk bealajar yang berhasil meliputi: persiapan sebelum mengajar, sasaran belajar, susunan bahan ajar, perbedaan individu, motivasi, sumber pengajaran, keikutsertaan, balikan, penguatan, latihan dan pengulangan, urutan kegiatan belajar, penerapan, sikap mengajar, penyajian di depan kelas.

Kompetensi Profesionalisme Guru

Kompetensi guru adalah kecakapan atau kemampuan yang dimiliki guru, yang diindikasikan dalam tiga kompetensi, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan tugas profesionalnya sebagai guru (profesional), kompetensi yang berhubungan dengan keadaan pribadinya (personal), dan kompetensi yang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungannya (sosial).

Kompetensi guru profesional menurut pakar pendidikan seperti Soediarto menuntut dirinya sebagai seorang guru agar mampu menganalisis, mendiagnosis, dan memprognosis situasi pendidikan. Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain: (a) disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran, (b) bahan ajar yang diajarkan, (c) pengetahuan tentang karakteristik siswa, (d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan,        (e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar, (f) penguasaan terhadap prinsip teknologi pembelajaran, (g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna kelancaran proses pendidikan.

Reformasi Pendidikan

Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim birokratik dan sentralistik dianggap sebagai salah satu sebab yang telah membuahkan keterpurukan dalam mutu dan keunggulan pendidikan di tanah air. Mengapa demikian? Karena sistem birokrasi selalu menempatkan kekuasaan sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses pengambilan keputusan.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) muncul sebagai paradigma baru pengelolaan pendidikan. MBS bermaksud “mengembalikan” sekolah kepada pemiliknya, yaitu masyarakat, yang diharapkan akan merasa bertanggung jawab kembali sepenuhnya terhadap pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.

Paradigma MBS beranggapan bahwa satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi, partisipasi, dan akuntabilitas pendidikan. Kepala sekolah, guru, dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi ketiga pihak tersebut.

Untuk sampai pada kemampuan untuk mengurus dan mengatur penyelenggaraan pendidikan di setiap satuan pendidikan, diperlukan program yang sistematis dengan melakukan capacity building. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan setiap satuan pendidikan secara berkelanjutan, baik untuk melaksanakan peran-peran manajemen pendidikan maupun peran-peran pembelajaran. Namun, kegiatan capacity building tersebut perlu dilakukan secara sistematis melalui penahapan sehingga menjadi proses yang dilakukan secara berkesinambungan arahnya menjadi jelas (straight foreward) dan terukur (measurable). Terdapat empat tahapan pokok yang perlu dilalui dalam melaksanakan capacity building bagi setiap satuan pendidikan, yaitu: tahap praformal, tahap formalitas, tahap transisional, dan tahap otonomi.

Peran Teknologi dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Salah satu komponen pendidikan yang perlu dikembangkan adalah kurikulum yang berbasis pendidikan teknologi di jenjang pendidikan dasar. Kemampuan-kemampuan seperti memecahkan masalah, berpikir secara alternatif, dan menilai sendiri hasil karyanya dapat dibelajarkan melalui pendidikan teknonologi. Untuk itu, pembelajaran pendidikan teknologi perlu didasarkan pada empat pilar proses pembelajaran, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Peran Guru dalam Pengembangan Media Pembelajaran di Era Teknologi Komunikasi dan Informasi

Klasifikasi media pembelajaran sebagai berikut:

1.      Media yang tidak diproyeksikan (non projected media), jenis media: Realita, model, bahan grafis (graphical material), display.

2.      Media yang diproyeksikan (projected media), jenis media: OHT, slide, opaque.

3. Media audio (Audio), jenis media: Audio kaset, audio vision, active audio vision.

4.      Media video (video), jenis media: video.

5. Media berbasis komputer (computer based media), jenis media: Computer Assisted Instruction (CIA), Computer Managed Instruction (CMI).

6.      Multimedia Kit, jenis media: perangkat praktikum.

Benang Kusut Pendidikan di Era Otonomi Pendidikan

Pada saat ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol: (1) masih rendahnya pemerataan untuk memperoleh pendidikan, (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, dan (3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di samping belum terwujudnya kemandirian dan  keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademisi. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi di antarwilayah geografis, yaitu antara perkotaan dan pedesaan, serta antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), dan antartingkat pendapatan penduduk ataupun atargender.

Kondisi yang sangat memprihatinkan tentang kualitas pendidikan di Indonesia tercermin pada hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh organisasi International Education Achievement (IEA) yang menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), studi untuk kemampuan matematika siswa SMP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hanya berada pada urutan ke-40 dari 42 negara peserta. ***

Sekian rangkuman buku Profesi Kependidikan karya Prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd. Semoga bermanfaat!

Link Terkait Pendidikan

Pengantar Pendidikan, Strategi Belajar Mengajar,

Perencanaan Pembelajaran, Pengelolaan Pendidikan,

Kapitaselekta Pendidikan,

Evaluasi Pendidikan,

Perkembangan Peserta Didik, Profesi Kependidikan

BLOG UTAMA

 

Download (doc)

Perencanaan Pembelajaran


PENTINGNYA PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Tugas Individual

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah: Perencanaan Pembelajaran

Oleh:

Komarudin Tasdik

AKTA IV / GELOMBANG I

BIDANG KEPENDIDIKAN DAN PROFESI KEGURUAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)

UNIVERSITAS BALE BANDUNG (UNIBBA)

2010

Pokok Bahasan Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran:

1.      Pendahuluan

2.      Konsep Perencanaan Pengajaran

3.      Pengembangan Silabus

4.      Pengembangan Kecakapan

5.      Pengembangan Persiapan Mengajar

6.      Pengelolaan Pembelajaran dan Pengembangan Bahan Ajar

7.      Sistem Penilaian dan Program Tindak Lanjut


Mini Paper:

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Lata Belakang

Guru merupakan salah satu pihak dalam dunia pendidikan yang memegang peran penting untuk mengarahkan siswa agar berhasil dalam kegiatan proses belajarnya. Berkenaan dengan hal ini, pemerintah menetapkan anggaran 20% dari APBN untuk kemajuan pendidikan. Sehingga negara berharap guru sebagai salah satu unsur penentu keberhasilan belajar siswa bisa menjadi seorang profesional.

Kata profesional di atas menuntut guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran agar dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara sistematis dan tepat, sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Perencanaan pembelajaran ini kadang-kadang membuat guru malas, misalnya menganggap silabus dan RPP terlalu konseptual, tidak terlalu relevan dengan kenyataan dalam mengajar.

Adanya ketidaksinkronan antara tuntutan profesionalisme guru dengan kenyataan, maka seorang guru harus memahami tentang pembelajaran lebih mendalam. Dengan demikian, penulis tertarik untuk membahasnya dalam judul: Pentingnya Perencanaan Pembelajaran.

1.2 Tujuan Penulisan

Batasan pembahasan difokuskan pada peran penting perencanaan pembelajaran untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kelas XII Madrasah Aliyah.

Berdasarkan batasan pembahasan di atas, maka penulisan ini bertujuan untuk:

a.       Mengetahui definisi perencanaan pembelajaran.

b.      Mengetahui komponen perencanaan pembelajaran.

c.       Mengetahui pentingnya perencanaan pembelajaran.

d.      Mengetahui pembuatan RPP berdasarkan KTSP.

BAB II

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

2.1 Definisi

Memahami definisi Perencanaan Pembelajaran dapat dikaji dari kata-kata yang membangunnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa perencanaan adalah proses, cara, perbuatan merencanakan (merancangkan), sementara pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

Begitu juga dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary tertulis bahwa perencanaan adalah the act or process of making plans for something (kegiatan atau proses merencanakan sesuatu), dan pembelajaran adalah the act of teaching something to somebody (kegiatan mengajarkan sesuatu kepada seseorang).

Dalam buku yang berjudul Perencanaan Pembelajaran karya Abdul Majid bahwa perencanaan pembelajaran dibangun dari dua kata, yaitu:

a.        Perencanaan, berarti menentukan apa yang akan dilakukan.

b.      Pembelajaran, berarti proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan.

Jadi, perencanaan pembelajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu, pada jenjang dan kelas tertentu, untuk topik tertentu, dan untuk satu pertemuan atau lebih.

2.2 Komponen Perencanaan Pembelajaran

Menurut buku yang berjudul Strategi Belajar Mengajar karya Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari:

a.       Tujuan (Objective)

Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan elat evaluasi.

b.      Bahan Pelajaran (Material)

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik.

c.       Metode (Method)

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode-metode mengajar mencakup:

1)      Metode Proyek; yaitu cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.

2)      Metode Eksperimen; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

3)      Metode Tugas dan Resitasi; yaitu metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.

4)      Metode Diskusi; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.

5)      Metode Sosiodrama; yaitu mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.

6)      Metode Demonstrasi; cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.

7)      Metode Problem Solving; yaitu menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

8)      Metode Karya Wisata; yaitu mengajak siswa belajar keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek yang lain.

9)      Metode Tanya Jawab; yaitu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.

10)  Metode Latihan; yaitu suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.

11)  Metode Ceramah; yaitu cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.

d.      Alat (Media)

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Misalnya: bagan, grafik, komputer, OHP, dan lain-lain.

e.       Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Misalnya: tes tulis, lisan, praktek, dan lain-lain.

2.3 Pentingnya Perencanaan Pembelajaran

Meminjam kata-kata singkat tapi sangat esensial dari buku Perencanaan Pembelajaran karya Abdul Majid bahwa inti proses pendidikan adalah pembelajaran. Inilah aktivitas rutin yang dilakukan guru sehari-hari. Agar program yang mereka lakukan lebih terarah, mereka musti tahu kurikulum yang dirilis pemerintah. Informasi dari kurikulum itulah sebagai bahan mereka untuk menyusun silabus dan rencana pembelajaran. Guru selayaknya dapat memahami tentang semua aktivitas teknik menyangkut pembelajaran secara baik. Tidak hanya itu, penting juga informasi tentang standar kompetensi yang seharusnya dimiliki guru sendiri.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sudah pasti dibutuhkan perencanaan pembelajaran yang baik. M. Sobry Sutikno dalam bukunya Pengelolaan Pendidikan Tinjauan Umum dan Konsep Islami menegaskan bahwa perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan pengelolaan. Tanpa perencanaan, pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Salah satu lembaran kertas mutiara buku Perencanaan Pembelajaran karya Abdul majid mengemukakan beberapa manfaat perencanaan pembelajaran dalam proses belajar mengajar, yaitu:

a.       Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.

b.      Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.

c.       Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid.

d.      Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.

e.       Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.

f.        Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.

Melihat manfaat di atas, maka perencanaan pembelajaran sangat perlu dilakukan oleh para guru, sesuai tujuannya yaitu agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien.

Perencanaan Pembelajaran

Pembahasan tentang pentingnya Perencanaan Pembelajaran dapat dilihat dalam bentuk skema berikut ini:

Peran penting perencanaan pembelajaran dapat terlihat ketika mengamati keadaan yang mungkin terjadi ketika diterapkannya perencanaan pembelajaran oleh seorang guru atau sebaliknya.

Kemungkinan yang akan terjadi dalam proses belajar mengajar ketika seorang guru melakukan perencanaan pembelajaran dengan benar di antaranya:

a.       Guru akan mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas, sehingga memungkinkan target penyampaian materi yang berdasarkan Standar Kompetensi akan tercapai secara optimal, bahkan memungkinkan siswa lulus ujian dengan skor yang terbaik.

b.      Guru akan menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik dan cara penyampaiannya,

c.       Guru akan mempunyai metode yang tepat dalam pengajarannya, sehingga materi akan mudah dipahami oleh siswa.

d.      Guru akan memiliki pemilihan media yang tepat, sehingga memungkinkan siswa sangat tertarik terhadap materi yang disampaikan.

e.       Guru akan memiliki standar jelas dalam memberikan evaluasi kepada siswa, bahkan memungkinkan para siswa dapat menjawab semua soal dengan tepat.

Berdasarkan lima kemungkinan positif di atas, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa proses belajar mengajar dengan perencanaan pembelajaran yang baik akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Keberhasilan ini akan mendorong siswa dan guru untuk mengembangkan prestasinya di bidang pendidikan lebih baik lagi.

Kemungkinan yang akan terjadi dalam proses belajar mengajar ketika seorang guru tidak melakukan perencanaan pembelajaran dengan benar di antaranya:

a.       Guru tidak akan mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas, sehingga memungkinkan target penyampaian materi yang berdasarkan Standar Kompetensi tidak akan tercapai, bahkan memungkinkan siswa tidak lulus dalam ujian.

b.      Guru tidak menguasai materi yang akan disampaikan dengan baik dan cara penyampaiannya, sehingga selain materi akan sulit dipahami oleh siswa, juga akan memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan, baik dalam materi maupun penyampaiannya.

c.       Guru tidak akan mempunyai metode yang tepat dalam pengajarannya, sehingga memungkinkan akan menghambat daya serap siswa terhadap materi yang disampaikan.

d.      Guru tidak memiliki pemilihan media yang tepat, sehingga memungkinkan siswa mengalami kejenuhan karena kurangnya daya kreativitas guru dalam mengajar.

e.       Guru tidak akan memiliki standar jelas dalam memberikan evaluasi kepada siswa, bahkan memungkinkan para siswa tidak dapat menjawab soal-soal dengan tepat (mungkin juga mendapatkan skor di bawah standar minimal).

Berdasarkan lima kemungkinan negatif di atas, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa proses belajar mengajar tanpa perencanaan pembelajaran yang baik tidak akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kegagalan ini akan menimpa pada siswa dan guru dalam mengembangkan prestasinya di bidang pendidikan.

2.4 Pembuatan RPP Berdasarkan KTSP

Enco Mulyasa dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menyatakan bahwa KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik.

Masih dalam buku yang sama, dijelaskan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan komponen penting dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang pengembangannya harus dilakukan secara profesional.

Karena adanya relevansi yang sangat kuat antara silabus dan RPP, maka berikut ini dituliskan contoh format silabus dan RPP berdasarkan KTSP untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kelas XII Madrasah Aliyah:

a.         Silabus

SILABUS

Satuan Pendidikan        : Madrasah Aliyah

Mata Pelajaran : Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Kelas                           : XII, Semester 2

StandarKomptensi Kompetensi Dasar Indikator Materi Standar KBM Standar Penilaian
1.   Menggunakan perangkat lunak pembuat presentasi 1.1     Menunjukkan menu dan ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pembuat presentasi1.2     Menggunakan menu dan ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pembuat presentasi1.3     Membuat presentasi teks dengan variasi tabel, grafik, gambar, dan diagram 1.1.1        Mendeskripsikan1.1.2        Mengidentifikasi1.2.1      Mengoperasikan

1.2.2      Menggunakan

1.2.3      Menggunakan

1.3.1       Menghasilkan

Perangkat lunak program presentasi-  Lembar presentasi-  Objek, audio, dan video pada presentasi

-  Durasi presentasi

-  Dokumen presentasi

-  Karya menggunakan program presentasi

-  Ceramah, demonstrasi, mengamati, Tanya jawab-  Tugas, latihan, Tanya jawab-  Tugas, latihan, eksperimen, Tanya jawab -  Penilaian proses dan penilaian hasil-  Penilaian proses dan penilaian hasil-  Penilaian proses dan penilaian hasil

b.        RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : TIK

Satuan Pendidikan        : Madrasah Aliyah

Kelas / Semester          : XII / 2

Waktu                          : 2 kali pertemuan

Kompetensi Dasar

Siswa mampu menunjukkan menu dan ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pembuat presentasi

Indikator

1.    Mendeskripsikan manfaat program presentasi

2.    Mengidentifikasi fungsi menu, tools, dan ikon

Materi Standar: Perangkat lunak program presentasi

Metode Pembelajaran: Demonstrasi, Tanya jawab

Kegiatan Pembelajaran

1.        Kegiatan awal

a.     Menciptakan lingkungan: Salam pembuka dan berdoa

b.    Pretes: Peserta didik menjawab beberapa pertanyaan tentang Program Pembuat Presentasi

c.     Menghubungkan materi yang telah dimiliki peserta didik dengan bahan atau kompetensi baru

2.        Kegiatan inti

a.       Pengorganisasian: perorangan

b.      Prosedur pembelajaran:

  • Ceramah tentang manfaat Program Pembuat Presentasi
  • Demonstrasi tentang halaman utama, menu, tools, dan ikon
  • Mengamati menu, tools, dan ikon
  • Tanya jawab
  • Membuat Rangkuman

c.       Pembentukan kompetensi

  • Pertemuan pertama: Mendeskripsikan manfaat Program Pembuat Presentasi dan mengenalkan halaman utamanya
  • Pertemuan kedua: Mengidentifikasi fungsi menu, tools, dan ikon

3.        Kegiatan akhir

a.     Untuk membentuk dan memantapkan sikap peserta didik terhadap kompetensi yang telah dipelajari pada akhir pembelajaran bisa dilakukan pengamatan kembali sebagai review

b.    Post tes bisa dilakukan secara lisan atau tertulis

Sumber Belajar

Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

1.      Komputer yang ada di laboratorium.

2.      Buku paket.

3.      Buku penunjang tengan program pembuat presentasi.

Penilaian

Penilaian dilakukan melalui penilaian proses, tes lisan dan portopolio

1.      Penilaian proses dilakukan melalui pengamatan pada saat peserta didik melakukan kegiatan.

2.      Tes lisan dilakukan melalui tanya jawab tentang kegiatan yang baru dilakukan peserta didik sesuai dengan indikator kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran.

3.      Portopolio mencakup seluruh hasil kegiatan peserta didik yang dikumpulkan untuk dijadikan bahan penilaian akhir

Mengetahui

Kepala Sekolah                                                                                    Pengajar

Komarudin                                                                                           Tasdik

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan:

a.       Perencanaan pembelajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu, pada jenjang dan kelas tertentu, untuk topik tertentu, dan untuk satu pertemuan atau lebih.

b.      Komponen perencanaan pembelajaran mencakup: tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi.

c.       Perencanaan pembelajaran dianggap penting agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien.

d.      Pembuatan RPP berdasarkan KTSP merupakan komponen penting dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang penyusunannya didasarkan pada silabus.

3.2 Saran

Untuk menjadi guru yang profesional sangat ditekankan untuk memahami perencanaan pembelajaran seutuhnya, baik secara teoritis maupun praktis. Guru sangat diharapkan tidak terkungkung dalam kondisi statusquo yang menganggap puas dengan ilmu yang sudah ada, tetapi ia harus lebih aktif lagi dalam mengembangkan kemampuan di bidangnya, baik dalam penyampaian maupun dalam penguasaan materi. Dengan kata lain, guru harus menyukai novelti dan membuang jauh-jauh bersandar penuh pada pengalaman saja.

DAFTAR PUSTAKA

1.        Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

2.        Djuharie, O. Setiawan. 2001. Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Yrama Widya

3.        Hornby, A S. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Sixth Edition. New York: Oxford University Press

4.        Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

5.        Mulyana, E. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Rosda

6.        Pusat Bahasa DEPDIKNAS. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka

7.        Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa DEPDIKNAS RI. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung: Pustaka Setia

8.        Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengaja: Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar: Teknik Penyajian. Jakarta: Rineka Cipta

9.        Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching

10.    Sadiman. 2006. Teknologi Informasi dan Komunikasi Jilid 3 untuk SMA Kelas XII Berdasarkan Standar Isi 2006. Jakarta: Erlangga

11.    Sudjana, Nana. 2006. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Sinar Baru Algesindo

12.    Sutikno, M. Sobry. 2009. Pengelolaan Pendidikan: Tinjauan Umum dan Konsep Islami. Bandung: Prospect

13.    Tim Redaksi Nuansa Aulia. 2005. Himpunan Perundang-Undangan RI Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Beserta Penjelasannya. Bandung: Nuansa Aulia

Kumpulan Artikel Pendidikan

 

Download (doc)